Dari sisi global, BSI menilai kondisi ekonomi dunia pada 2026 masih diliputi ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan potensi perang dagang, sehingga tingkat optimisme berada di level moderat atau skor 3.
Baca Juga: Perkuat Strategi 2026, Telkomsat Satukan Komitmen Lewat Leader’s Talk dan RKAP
Meski demikian, tren inflasi global yang melandai membuka peluang penurunan suku bunga global, termasuk Federal Funds Rate (FFR), yang berpotensi mendorong arus modal masuk ke negara-negara dengan prospek pertumbuhan positif seperti Indonesia.
Selain itu, harga emas diperkirakan tetap berada dalam tren penguatan.
Kondisi ini menjadi peluang bagi BSI untuk mengembangkan bisnis emas yang terintegrasi dengan ekosistem keuangan syariah, seiring kepemilikan izin bullion bank yang mencakup perdagangan dan penyimpanan emas.
Baca Juga: Libur Nataru, Kereta Api Jadi Pilihan Utama Masyarakat, KAI Catat Lonjakan Penumpang Arus Balik
Dari sudut pandang domestik, Anggoro menyatakan bahwa stabilitas politik pada kuartal pertama tahun 2026 dapat membaik seiring upaya pemerintah meningkatkan daya beli dan peran sektor swasta dalam menciptakan lapangan kerja. Hal ini diharapkan menciptakan iklim bisnis yang lebih baik.
Dengan berbagai faktor tersebut, BSI memastikan akan melanjutkan ekspansi bisnis pada kuartal pertama tahun 2026.
Fokus utama akan tertuju pada segmen ritel konsumer, pengembangan Bank Emas, layanan haji, serta peningkatan kolaborasi lintas segmen, mulai dari UMKM, konsumer, SME hingga korporasi.
Baca Juga: Telkom Akses Tingkatkan Keselamatan Kerja Teknisi Lewat Kebijakan Ruang Terbatas
BSI optimis bahwa keuangan syariah sekarang tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi telah menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan sektor keuangan nasional.
"Pertumbuhan aset, pembiayaan, dan DPK yang berkisar dua digit mencerminkan kenaikan kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan syariah,” tutup Anggoro.***