Kabar BUMN - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau Bank Rakyat Indonesia mencatatkan kinerja positif sepanjang Triwulan I 2026.
Di tengah situasi ekonomi global yang masih dipenuhi tantangan geopolitik, perseroan tetap mampu menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Kinerja tersebut terlihat dari pertumbuhan laba bersih yang mencapai Rp15,5 triliun atau meningkat 13,7 persen secara year-on-year (YoY). Peningkatan ini didukung oleh kualitas aset yang tetap terjaga, efisiensi biaya dana, serta strategi penyaluran kredit yang dilakukan secara selektif.
Baca Juga: Tips Memotret di Dalam Laut Bagi Pemula, Optimalkan Ponsel Jika Memang Belum Ada Modal Kamera
Selain laba yang tumbuh, BRI juga mencatatkan peningkatan pada rasio profitabilitas perusahaan.
Return on Assets (ROA) naik menjadi 2,8 persen, sementara Return on Equity (ROE) meningkat dari 17,1 persen pada Triwulan I 2025 menjadi 18,4 persen pada periode yang sama tahun 2026.
Dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan I 2026, Direktur Utama BRI Hery Gunardi menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut tidak lepas dari kombinasi perbaikan kualitas aset dan pengelolaan biaya yang semakin efisien.
Baca Juga: BKI dan Indonesia Kembali Pertahankan Predikat “High Performance” di Tokyo MoU 2025
“Pertumbuhan ini mencerminkan kemampuan BRI dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan pengelolaan biaya dana yang semakin efisien."
"Di satu sisi, pertumbuhan kredit yang tetap kuat memberikan dorongan terhadap pendapatan bunga."
"Sementara di sisi lain, perbaikan struktur funding, khususnya peningkatan CASA, turut menekan cost of fund. Secara keseluruhan, BRI tidak hanya tumbuh, namun juga mampu menjaga kualitas pertumbuhan,” jelas Hery.
Baca Juga: BULOG Gandeng Akademisi dan Masyarakat Bahas Swasembada Pangan Berkelanjutan di Jawa Timur
Hingga akhir Triwulan I 2026, total aset BRI tercatat mencapai Rp2.250 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penyaluran kredit dan pembiayaan meningkat 13,7 persen YoY menjadi Rp1.562 triliun.
Perseroan menilai capaian tersebut menunjukkan fundamental bisnis yang masih kuat di tengah dinamika industri perbankan.
Efisiensi biaya dana yang terus dilakukan serta kualitas aset yang terjaga juga menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan perusahaan.