Peran ekonomi transportasi kereta api semakin terlihat dengan hadirnya Kereta Petani dan Pedagang yang mulai beroperasi sejak 1 Desember 2025.
Layanan ini lahir untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada pasar tradisional, sentra perdagangan, serta kawasan pertanian di sepanjang lintas Merak.
Baca Juga: Bunga Matahari Raksasa dan Sayap Malaikat Hadir di Prambanan, Sudah Foto di Sini?
Selama Januari hingga Mei 2026, Kereta Petani dan Pedagang mencatat 20.908 perjalanan pelanggan.
Sementara sejak mulai beroperasi pada 1 Desember 2025 hingga akhir Mei 2026, jumlah perjalanan pelanggan telah mencapai 25.023 perjalanan.
Angka tersebut menunjukkan adanya aktivitas ekonomi yang berlangsung secara konsisten setiap hari.
Baca Juga: WIKA Beton Dukung Percepatan Proyek Sekolah Rakyat, Suplai Beton Pracetak Rp75,9 Miliar
Di balik data perjalanan tersebut terdapat berbagai kegiatan perdagangan dan distribusi yang terus bergerak.
Mulai dari pedagang yang mencari pasokan barang dagangan, petani yang membawa hasil panen ke pasar, hingga pelaku usaha mikro yang memanfaatkan kereta sebagai sarana transportasi yang murah dan mudah diakses.
Bagi kelompok masyarakat tersebut, efisiensi biaya perjalanan berpengaruh langsung terhadap pendapatan yang mereka peroleh.
Baca Juga: Ribuan Sambungan Air Kembali Normal, Hutama Karya Kebut Rehabilitasi SPAM di Sumbar
Semakin rendah biaya transportasi, semakin besar peluang untuk memperluas pasar, mengembangkan usaha, dan meningkatkan keuntungan.
Anne menambahkan bahwa manfaat transportasi publik memiliki dampak berantai bagi kehidupan masyarakat.
"Ketika seorang pedagang dapat menghemat biaya perjalanan, daya saing usahanya ikut meningkat. Ketika petani lebih mudah menjangkau pasar, akses terhadap pembeli menjadi lebih luas.
Baca Juga: PT MUM Buka Lowongan Kerja di Semarang, Syarat Pendidikan Minimal D3 Ekonomi