"Dengan adanya integrasi KAI dan INKA, kita harapkan KAI dan INKA bisa membuat roadmap kerja sama pengadaan sarana jangka panjang, bukan hanya per tahun atau jangka pendek, sehingga semua persiapan R&D maupun manufaktur INKA itu bisa direncanakan dari awal sampai akhir," ujarnya.
Menurut Gede, kepastian kontrak jangka panjang akan membantu INKA memperkuat investasi manufaktur sekaligus memperbaiki sistem rantai pasok.
Baca Juga: Sambut Libur Sekolah, PELNI Beri Diskon Tarif Tiket Kapal Hingga 30 Persen
Potensi Pendapatan INKA Diproyeksi Rp33,9 Triliun
KAI memperkirakan integrasi ini akan berdampak besar terhadap kesehatan finansial INKA dalam beberapa tahun mendatang.
"Dari kondisi yang ada, order yang kira-kira sudah kita amankan buat INKA lima tahun ke depan itu sekitar Rp18,9 triliun."
Baca Juga: PHI Lampaui Target RKAP 2025, Produksi Migas Jadi yang Pertama dalam Lima Tahun Terakhir
"Sedangkan bisnis MRO atau recurring income itu sekitar Rp3 triliun per tahun, sehingga dalam lima tahun ke depan itu sekitar Rp15 triliun," kata Gede.
Dari proyeksi tersebut, total potensi pendapatan INKA selama lima tahun diperkirakan mencapai sekitar Rp33,9 triliun, yang berasal dari pengadaan sarana kereta dan bisnis maintenance, repair, and overhaul (MRO).
KAI juga menargetkan pada 2029 INKA dapat berkembang menjadi perusahaan manufaktur kereta yang lebih sehat secara finansial dengan bisnis MRO yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Baca Juga: Turun Ratusan Anak Tangga, Hadiahnya Pantai Cantik yang Masih Sepi di Bali
Belajar dari Rusia, Jepang, dan China
Dalam menyusun strategi integrasi, KAI mempelajari model bisnis dari sejumlah negara yang telah lebih dulu mengintegrasikan operator kereta dengan perusahaan manufaktur.
Di Rusia, operator nasional kereta api mengakuisisi perusahaan manufaktur untuk menyelaraskan pengembangan produk dan riset.
Baca Juga: Dari Gelap Menuju Terang, 149 Keluarga di Noemuke Kini Nikmati Listrik PLN 24 Jam
Sementara di Jepang, integrasi operator dengan produsen kereta memungkinkan pengendalian desain sejak tahap awal sekaligus penerapan konsep design for maintenance.
Menurut Gede, model serupa terbukti memberikan sejumlah manfaat seperti efisiensi biaya pengadaan, kepastian perencanaan jangka panjang, hingga arah riset yang lebih sesuai kebutuhan operator.