Kabar BUMN - Semangat Kartini di masa kini tercermin dalam langkah-langkah sederhana perempuan yang terus berjuang di tengah berbagai keterbatasan.
Perempuan tidak lagi hanya bermimpi, tetapi juga berani mengambil tindakan nyata demi mengubah kehidupan diri sendiri, anak, dan keluarganya menjadi lebih baik.
Kisah tersebut tergambar dari perjalanan Ibu Dewi Priyanti, perempuan asal Solo yang merantau ke Jakarta dengan tekad memperbaiki nasib.
Ia memulai dari nol sebagai penjaga warung kecil, menjalani hari-hari dengan penuh keyakinan yang selalu ia panjatkan dalam doa.
Baca Juga: 46 Tahun PT PAL Indonesia: Dari Galangan Nasional Menuju Kekuatan Maritim Global
Dalam perjalanannya, Ibu Dewi bertemu dengan sosok yang ia sebut sebagai “kakak seragam putih biru”, yang kemudian diketahui berasal dari Permodalan Nasional Madani (PNM), lembaga keuangan milik negara yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat prasejahtera melalui usaha ultra mikro.
Berbekal kemampuan memasak, Ibu Dewi mulai mengembangkan usahanya dari warung sederhana.
Ia menambah variasi menu, melayani pelanggan dengan sepenuh hati, serta terus belajar dari pengalaman.
Baca Juga: Panduan Lengkap Membuat CV ATS Friendly, Rahasia Agar Dilirik HRD
Perkembangan usahanya semakin terbuka setelah bergabung dengan program PNM Mekaar.
Dari pembiayaan awal sebesar Rp2 juta yang kemudian berkembang hingga Rp10 juta, usaha yang dirintisnya menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
Namun, lebih dari sekadar modal, keberanian dan konsistensi menjadi faktor utama dalam perjalanan tersebut.
Baca Juga: Krakatau Steel Gandeng Kemendes PDTT Bentuk Desa Tematik untuk Dukung Ekosistem Makan Bergizi Gratis
Tak hanya fokus pada usaha, Ibu Dewi juga aktif dalam kegiatan sosial sebagai Ketua Bank Sampah Unit (BSU) Kembangs.