Kabar BUMN - Suara mesin jahit kini semakin akrab terdengar dari sudut Kecamatan Panjang, Bandar Lampung.
Di balik irama mesin yang bekerja tanpa henti, tersimpan kisah tentang perjuangan, harapan, dan perubahan yang sedang dirajut oleh puluhan perempuan setempat.
Kawasan yang dahulu dikenal sebagai PMD atau Pemandangan dan lama melekat dengan stigma sebagai wilayah lokalisasi, kini perlahan menunjukkan wajah baru.
Baca Juga: Tebar Manfaat di Momen Iduladha, Rohis Pegadaian Salurkan 4.500 Paket Daging Kurban untuk Masyarakat
Transformasi tersebut bukan datang dari luar, melainkan tumbuh dari semangat sekitar 30 perempuan yang tergabung dalam Kelompok Tapis Melati.
Melalui komunitas ini, mereka belajar, bertahan, sekaligus menemukan kembali jalan untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Dengan keterampilan yang mereka miliki, para perempuan tersebut menenun kain tapis, kain tradisional khas Lampung yang kaya akan nilai budaya dan diwariskan secara turun-temurun.
Bagi anggota Kelompok Tapis Melati, kain tapis bukan sekadar produk kerajinan.
Setiap helai benang yang disulam menjadi simbol kesabaran, ketekunan, dan harapan untuk kehidupan yang lebih layak.
Di tengah stigma yang selama bertahun-tahun membayangi lingkungan tempat tinggal mereka, para perempuan ini memilih melawan keadaan melalui karya dan kreativitas.
Baca Juga: Dukung Ketahanan Pangan, BRI Kucurkan KUR Rp27,95 Triliun ke Sektor Pertanian
Namun perjalanan untuk bangkit tidak selalu mudah.
Keterbatasan sarana produksi menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus mereka hadapi.
Artikel Terkait
Rayakan HUT ke-45, PTBA Gelar Donor Darah dan Berhasil Kumpulkan 55 Kantong Darah
Wujudkan SDM Berkualitas, PTBA Fokus pada Pembinaan Mental dan Fisik Siswa
PTBA Raih Apresiasi Pemkab Muara Enim atas Komitmen Wujudkan Lingkungan Ramah Anak
Sport Tourism Sawahlunto Meningkat Berkat Turnamen Tenis PTBA
Berbagi Kebahagiaan Iduladha, PTBA Salurkan 300 Hewan Kurban di Berbagai Wilayah Operasional