interaktif

Suku Bunga The Fed Naik 75bps pada FOMC, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

Jumat, 29 Juli 2022 | 16:35 WIB

Kabar BUMN - Menyebabkan  investor banyak melarikan aset finansialnya dari negara berkembang ke AS, karena return yang ditawarkan menjadi lebih besar dan risiko investasinya relatif kecil dibanding di negara berkembang.

Oleh: Anton Hendranata, Chief Economist BRI

Kenaikan suku bunga The FED sebesar 75bps sejatinya tidaklah mengejutkan. Pasar sudah memprediksi hal tersebut mengingat tingkat inflasi AS hingga Juni 2022 masih tinggi, sebesar 9,1% yoy. Kenaikan tersebut menjadikan tingkat suku bunga acuan The FED saat ini menjadi sebesar  2,25-2,50%pa. 

Kenaikan tersebut jelas berdampak besar bagi pasar finansial dan valas Indonesia. Menyebabkan  investor banyak melarikan aset finansialnya dari negara berkembang ke AS, karena return yang ditawarkan menjadi lebih besar dan risiko investasinya relatif kecil dibanding di negara berkembang. Aset finansial AS yang menarik tentu bisa mendorong capital outflow pada pasar finansial Indonesia, di pasar saham maupun obligasi.

Sebetulnya, pasar obligasi dan saham Indonesia sudah mengalami capital outflow sejak Mei 2022, ketika The FED menaikkan suku bunganya secara agresif sebesar 50bps (di luar perkiraan sebelumnya sebesar 25bps). Kenaikan suku bunga The FED sebesar 75bps pada Juli saat ini tentunya dapat semakin menekan pasar obligasi dan saham nasional. Selain itu, terjadinya capital outflow pada pasar finansial dapat mendorong depresiasi nilai Rupiah karena permintaan terhadap US Dollar yang meningkat dari penjualan aset finansial Rupiah.

Dampaknya bagi perekonomian Indonesia

Berdasarkan riset kami, sebetulnya fundamental ekonomi saat ini cukup kuat untuk menahan gejolak eksternal, baik pada sektor riil-perbankan, sektor finansial-valas, maupun sektor eksternal-perdagangan. Lebih lanjut, kami juga menunjukkan bahwa sektor finansial-valas Indonesia relatif lebih robust saat ini dalam menahan gejolak eksternal, terlihat dari cadangan devisa yang less sensitive terhadap capital outflow di pasar finansial dan perdagangan.

Cadangan devisa pada Juni 2022 tercatat sebesar US$136,4 Miliar, naik dari Mei 2022 sebesar US$135,6 Miliar. Angka tersebut setara dengan pembiayaan 6,6 bulan impor, atau 6,4 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan. Dengan cadangan devisa yang kuat dan kepemilikan asing yang rendah terhadap SBN (26-Jul-22: 15,35%) diperkirakan dapat menahan volatilitas pasar finansial Indonesia.

Di tengah tren kenaikan tingkat suku bunga, Bank Indonesia (BI) masih menjaga BI7DRR di level 3,50%pa pada RDG Juli 2022. Kami melihat BI memandang bahwa kondisi nilai Rupiah saat ini masih relatif stabil, baik nilai internal (inflasi) maupun eksternal (nilai tukar terhadap US Dolar). Dari sisi inflasi, tingkat inflasi CPI Indonesia secara umum memang meningkat cukup signifikan menjadi sebesar 4,35%yoy pada Juni 2022.

Namun demikian, nilai inflasi inti nasional masih cukup terjaga dan stabil di bawah 3%yoy, yaitu 2,63%yoy pada Juni 2022. Hal tersebut mengimplikasikan bahwa kenaikan inflasi Indonesia saat ini bukan didorong oleh faktor demand melainkan faktor supply akibat kenaikan harga komoditas pangan.  

Dari sisi nilai eksternal, walaupun saat ini nilai tukar Rupiah sedang mengalami tren depresiasi terhadap US Dollar, namun nilainya masih relatif rendah dibandingkan dengan depresiasi mata uang negara emerging markets lainnya. Per 22 Juli 2022, Rupiah hanya terdepresiasi sebesar -5,09%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata depresiasi nilai tukar EM lainnya sebesar 8%. Kondisi ini membuat BI masih memiliki ruang untuk bisa menjaga tingkat suku bunga acuannya di level 3,50%pa, sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional.

Dari sisi nilai eksternal, walaupun saat ini nilai tukar Rupiah sedang mengalami tren depresiasi terhadap US Dollar, namun nilainya masih relatif rendah dibandingkan dengan depresiasi mata uang negara emerging markets lainnya.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, kami pikir cukup masuk akal jika BI masih menahan suku bunga acuannya di RDG Juli 2022. Namun demikian, ke depan rasanya BI akan mulai menaikkan suku bunganya pada RDG Agustus 2022. Hal ini karena level nilai Rupiah yang sudah berada dikisaran Rp15.000-an, dan tingkat inflasi inti juga diperkirakan dapat merangkak hingga 2,82%yoy pada bulan Juli 2022 sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi dan demand masyarakat. Inflasi CPI juga diperkirakan dapat meningkat hingga 4,89%yoy, sejalan dengan masih terganggunya pasokan supply bahan pangan akibat cuaca yang tidak menentu, utamanya pada cabai dan bawang.

Foto: Dokumentasi BRI

Terkini