Kabar BUMN - Jika Anda melewati kawasan Glodok, kemungkinan besar akan melihat Pantjroan Tea House.
Posisi Pantjroan Tea House strategis, di pojok sebelum pintu masuk Petak Sembilan, di seberang Pasar Glodok.
Bangunan Pantjroan Tea House pun cukup mencolok, sehingga mungkin menarik pandangan.
Bangunannya berarsitektur kombinasi antara kolonial dan Tiongkok.
Dulunya ini bangunan toko obat Chung Hwa yang merupakan apotek tertua di Indonesia.
Sempat kosong dan terbengkalai, tempat ini masuk dalam bangunan bersejarah di Jakarta.
Direnovasi pemerintah daerah Jakarta, barulah setelah itu digunakan menjadi kedai minum teh.
Baca Juga: Viral Ubi Creme Brulee Khas Jepang, Sudah bisa Dicari dan Dinikmati di Beberapa Tempat di Jakarta
Pertahankan tradisi patekoan
Ada satu yang unik di Pantjroan Tea House, yakni masih dipraktekannya tradisi patekoan.
Patekoan artinya delapan teko teh. Pa artinya delapas dan teiko artinya teh.
Ini tradisi meletakkan 8 buah teko teh di depan toko untuk dibagikan gratis pada orang yang lewat.
Baca Juga: 5 Perpustakaan Aesthetic di Jakarta, Recomended untuk Book Date
Tradisi ini diawali tahun 1663, diawali seorang kapitan Batavia bernama Gan Djie dan istrinya.
Keduanya melihat banyak orang yang lewat kelelahan dan haus.
Lalu berinisiaif menaruh 8 teko di depan kantor dan boleh diminum siapa saja dengan gratis.
Baca Juga: 5 Toko Roti Legendaris di Jakarta dengan Resep Jadul yang Masih Dicari Pembeli
Tradisi ini dihidupkan lagi oleh Pantjoran Tea House.