Tebing Breksi tidak hanya menawarkan pemandangan alam yang memesona dengan tebing kapur menjulang tinggi hingga 30 meter, tetapi juga pahatan relief dan patung yang menggambarkan cerita-cerita pewayangan Jawa.
Karya seni ini dibuat oleh seniman lokal, Anto, yang telaten dan sabar dalam mengukir detail-detailnya.
Bagi pengunjung yang suka beraktivitas fisik, terdapat anak tangga yang dibangun di sisi timur tebing untuk memudahkan akses naik ke puncak.
Di samping itu, Tlatar Seneng dan amfiteater sering digunakan untuk acara-acara seperti konser musik dan pertunjukan seni.
Kawasan Tebing Breksi juga menawarkan pengalaman kuliner dengan berbagai lapak makanan yang menyajikan hidangan khas seperti tongseng, rica-rica, dan soto.
Salah satu yang terkenal adalah ayam ingkung Bu Asih, yang sering dikunjungi oleh pengunjung untuk menikmati masakan tradisional di tengah suasana alam yang indah.
Baca Juga: Kembali ke Kehidupan Masyarakat Korea Selatan Ratusan Tahun Silam di Korean Folk Village, Yongin
Tidak ketinggalan, ada juga banyak objek swafoto menarik seperti burung hantu di tangga masuk, patung-patung pewayangan, dan pemandangan Kota Yogyakarta dari ketinggian.
Saat senja tiba, pemandangan ini semakin memukau dengan siluet candi-candi Prambanan dan cahaya kota Yogyakarta yang gemerlap.
Pengembangan dan Penghargaan
Baca Juga: Erick Thohir Tegaskan PMN Kini Didanai dari Dividen BUMN, Bukan Utang Luar Negeri
Tebing Breksi terus mengalami pengembangan, termasuk penambahan pahatan-pahatan baru dan fasilitas pendukung lainnya seperti kebun buah dan akomodasi. P
restasinya sebagai Tempat Wisata Baru Terpopuler 2017 menunjukkan bahwa Tebing Breksi telah diterima dengan baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.
Dengan berbagai daya tarik alam dan budaya yang ditawarkannya, Tebing Breksi tidak hanya menjadi destinasi liburan yang menyenangkan, tetapi juga memperkaya pengalaman wisata di Yogyakarta.***