Kabar BUMN - Hari Raya Waisak selalu menjadi momen penting bagi umat Buddha di seluruh dunia.
Perayaan ini bukan hanya tentang ritual keagamaan, tetapi juga menjadi pengingat akan perjalanan spiritual Sang Buddha.
Di Indonesia sendiri, Waisak dirayakan dengan penuh makna dan tradisi, khususnya di kawasan Candi Borobudur.
Baca Juga: Pertamina Terdepan dalam Kepatuhan Regulasi di Sekor Migas, Raih Predikat Perusahaan Terbaik
Awal Perayaan Waisak di Indonesia
Perayaan Waisak di Indonesia telah berlangsung sejak tahun 1929 dan dipusatkan di Candi Borobudur. Inisiatif awal datang dari Himpunan Teosofi Hindia Belanda yang memiliki anggota berdarah campuran Eropa dan Jawa.
Namun, perayaan sempat terhenti saat masa Revolusi Kemerdekaan dan juga ketika Candi Borobudur dipugar pada tahun 1973. Selama proses pemugaran, pusat perayaan Waisak pun dipindah ke Candi Mendut.
Baca Juga: Rayakan Long Weekend Waisak dengan Jelajah Wisata Magelang, Ini 5 Destinasi yang Wajib Dikunjungi
Sejarah Trisuci Waisak
Waisak diperingati karena tiga peristiwa penting dalam hidup Siddharta Gautama: kelahiran, pencapaian pencerahan, dan wafatnya. Ketiga peristiwa ini dikenal sebagai Trisuci Waisak.
Siddharta lahir pada tahun 623 SM di Taman Lumbini, mencapai pencerahan pada usia 35 tahun di Bodh Gaya, dan wafat pada usia 80 tahun di Kusinara. Sejak menjadi Buddha, ia menyebarkan ajaran Dharma selama 45 tahun kepada umat manusia.
Baca Juga: BRI Peduli Perkuat Akses Digital di Sekolah 3T, Dukung Pendidikan Berkualitas di Lombok Utara
Penetapan Waisak secara Global
Waisak secara internasional diresmikan sebagai hari suci melalui Konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia di Sri Lanka pada tahun 1950.
Dalam konferensi tersebut disepakati bahwa Waisak dirayakan pada purnama pertama di bulan Mei. Tradisi ini pun terus berlanjut hingga sekarang dan dirayakan oleh umat Buddha di seluruh dunia.