Baru diakui di abad 20
Belum jadi bagian kuliner warisan Prancis, sampai abad ke-18 resepnya sering berubah-ubah, tergantung pembuatnya.
Namanya pun belum seragam. Ada yang menyebutnya canole, canaule, canaulé atau canaulet.
Perubahan nama resmi menjadi canelé terjadi pada tahun 1985.
Pada tahun tersebut sekelompok pecinta pastry secara resmi mendaftarkannya sebagai kuliner asli Bordeaux.
Baca Juga: Hijau Menyegarkan, Ini Taman-taman di Medan, Terbuka untuk Umum dan Gratis
Bersamaan dengan itu mereka meresgitrasikan nama dan resep original canelé.
Bahan bakunya terdiri atas kuning telur, rum, susu, butter, gula, vanila, dan beewax.
Di Prancis sendiri canelé selalu menggunakan rum yang mengandung alkohol.
Di Indonesia dibuat versi tanpa rum.
Baca Juga: Etika Makan di Jepang, Hampir Tidak Ada yang Sama dengan Tata Krama di Indonesia
Sulit dan lama
Canelé punya cita rasa manis dan berkrim selembut puding karena menggunakan adonan custrad.
Ukurannya yang kecil membuat orang tidak cukup hanya makan satu potong.
Namun tidak semua orang mampu membuatnya. Pasty ini termasuk jenis yang sulit dibuat.
Orang harus memiliki skill khusus untuk menghasilkan bagian dalamnya lembut tapi di luarnya keras.
Baca Juga: Tumbuhkan Rasa Bangga Pakai Kebaya, Yuk Gabung di Ajang Putri Kebaya Klasik 2025 Stasiun Tuntang!
Untuk adonan dasarnya pun harus didiamkan sekitar 4- 7 jam.
Kesulitan lainnya, menghasilkan warna kulit canelé yang kecokelatan lewat proses karamelisasi.