ragam

Menengok Tradisi Malam 1 Suro di Surakarta, Kirab Kebo Kyai Slamet yang Kotorannya Diyakini Bawa Berkah

Kamis, 26 Juni 2025 | 19:30 WIB
Kebo Kyai Slamet, kerbau dari Keraton Surakarta yang diarak dalam Kirab Malam 1 Suro, kotorannya diyakini membawa berkah. (Instagram/@karatonsurakartahadiningrat)

Kabar BUMN – Menyambut Tahun Baru Islam bukan hanya tentang doa dan refleksi spiritual bagi masyarakat Jawa, khususnya di Surakarta.

Ada satu tradisi unik yang selalu menyedot perhatian, yakni kirab malam 1 Suro—sebuah pawai sakral yang menjadi bagian dari peringatan malam 1 Muharam.

Di antara berbagai simbol budaya yang ditampilkan, sosok kerbau berwarna putih keabu-abuan, yang dikenal sebagai Kebo Kyai Slamet, menjadi bintang utama kirab ini.

Baca Juga: Keutamaan Puasa Sunnah 1 Muharram, Niat, dan Tata Cara Pelaksanaannya

Kerbau bule ini bukan hewan sembarangan. Ia dianggap keramat dan penuh berkah oleh masyarakat sekitar.

Bahkan, hal yang paling mengejutkan dan sekaligus menarik dari tradisi ini adalah kotoran Kebo Kyai Slamet yang jadi rebutan warga. Ya, kotorannya!

Masyarakat percaya bahwa kotoran yang jatuh selama prosesi kirab membawa berkah dan perlindungan dari marabahaya.

Sejarah dan Asal Usul Kebo Kyai Slamet

Baca Juga: 4 Kuliner Khas Melayu Riau dengan Rasa Gurih dan Pedas yang Menggiurkan

Tradisi ini bukan tanpa akar sejarah. Dilansir dari pariwisatasolo.surakarta.go.id, kerbau sakral ini bermula dari hadiah Bupati Ponorogo kepada Sri Susuhunan Pakubuwono II.

Saat diserahkan ke Keraton Surakarta, kerbau tersebut disertai dengan pusaka bernama Kyai Slamet.

Dari sinilah nama “Kebo Kyai Slamet” berasal, dan sejak itu kerbau ini mendapatkan tempat khusus dalam tradisi keraton.

Baca Juga: Kapan Tahun Baru Islam 1447 H, Ini Jadwal Puasa dan Makna Spiritual Bulan Muharram

Meski kerbau pertama dari silsilah Kyai Slamet sudah tiada sejak ratusan tahun lalu, keturunannya masih dirawat secara khusus di lingkungan Keraton Surakarta.

Halaman:

Tags

Terkini