Kabar BUMN - Mulai 13 Oktober 2025, seluruh jalur pendakian di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) resmi ditutup sementara.
Kebijakan ini dilakukan bukan karena alasan keselamatan, melainkan sebagai langkah besar menuju pengelolaan pendakian yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Melalui inisiatif ini, pihak taman nasional ingin mewujudkan program Zero Waste Wisata Pendakian Gunung di tahun 2025.
Baca Juga: Buruan Lamar! PT Mitra Utama Madani Buka Loker Sales Merchandiser Hingga 17 Oktober 2025
Fokus pada Tiga Aksi Utama
Penutupan jalur pendakian ini dimanfaatkan untuk melaksanakan tiga program besar.
Pertama, penyelesaian masalah sampah yang sudah lama menjadi tantangan utama di kawasan taman nasional. Kegiatan pembersihan dilakukan secara kolaboratif bersama komunitas pecinta alam, petugas taman nasional, akademisi, dan pelaku wisata.
Baca Juga: Tips Packing untuk Liburan ke Luar Negeri Agar Tidak Kelebihan Muatan
Mereka akan mengevakuasi, memilah, dan mengolah sampah yang tertinggal di jalur pendakian.
Kedua, perbaikan sistem tata kelola pendakian juga menjadi perhatian utama. Proses ini meliputi peninjauan ulang perizinan pendakian, penataan ulang basecamp, peningkatan fasilitas dasar, hingga penyempurnaan sistem digital SIAP GEPANG (Sistem Informasi dan Aplikasi Pengelolaan Gunung Gede Pangrango).
Harapannya, proses registrasi hingga pengawasan di lapangan bisa berlangsung lebih efisien dan transparan.
Ketiga, dilakukan revitalisasi pelayanan bagi para pendaki. Program ini mencakup pembaruan data pendaki, pelatihan bagi pemandu, dan edukasi bertema “Pendaki Cerdas” yang menanamkan nilai peduli lingkungan serta pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Dampak Penutupan bagi Pendaki
Selama masa penutupan, seluruh jalur pendakian, termasuk jalur Cibodas, Gunung Putri, dan Selabintana, tidak dapat diakses.
Baca Juga: Len Runity 2025, Ajang Lari Sambil Berbagi Bersama PT Len Industri