Selain itu, PLN mengganti 1,1 GW PLTU dengan pembangkit EBT dan 800 MW PLTU dengan pembangkit gas.
"Apa yang kita lakukan ini baru awal, jalan transisi energi masih panjang dan terus diakselerasi," ungkap Darmawan.
Baca Juga: Dorong Kesejahteraan Sosial, Pertamina Patra Niaga Raih 4 Penghargaan Padmamitra 2022
Dalam masa transisi energi, PLN menggunakan teknologi co-firing di PLTU sebagai upaya menekan penggunaan batu bara.
Co-firing adalah substitusi batu bara pada rasio tertentu dengan bahan biomassa seperti pellet kayu, cangkang sawit dan sawdust (serbuk gergaji).
Darmawan menegaskan bahwa co-firing ini dilakukan tak sekedar mengurangi emisi, tetapi juga memberdayakan masyarakat dan membangun ekonomi kerakyatan.
"Kehadiran program ekonomi kerakyatan co-firing ini juga merupakan langkah nyata PLN menjawab persoalan global," papar Darmawan.
"Mewujudkan Indonesia yang bersih dan mandiri energi."
"Meningkatkan kapasitas nasional dengan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG)," tandasnya.
Artikel Terkait
Tak Hanya Modal Usaha, UMK Binaan Bukit Asam (PTBA) Juga Dapat Pelatihan dan Pembinaan Bisnis
Loker BUMN: Bank BRI Kantor Cabang Pemalang Buka Posisi 'Frontliner', Batas Lamaran Terakhir 14 Juli 2023
Petani Plasma PTPN V Sambut Hangat Pembentukan PalmCo