Kabar BUMN - Insiden tabrakan antara kereta api dengan truk di Semarang dan Bandar Lampung pada Selasa (18/7) lalu, mendapatkan respons beragam dari publik.
Salah satu yang mencuri banyak perhatian publik adalah sistem pengereman di transportasi kereta api.
Secara sistem pengereman, kereta api adalah jenis transportasi apabila melakukan proses pengereman maka membutuhkan jarak pengereman agar benar–benar berhenti.
Hal tersebut dijelaskan langsung oleh VP Public Relations KAI, Joni Martinus.
"Berbeda dengan transportasi darat pada umumnya, kereta api memiliki karakteristik yang secara teknis tidak dapat dilakukan pengereman secara mendadak," tutur Joni Martinus.
"Untuk itu, kami mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan berhati-hati sebelum melewati perlintasan sebidang," imbuhnya.
Baca Juga: Mana Yang Lebih Menguntungkan Membeli Mobil Baru Atau Mobil Bekas?
Lebih lanjut, Joni menjelaskan ada faktor-faktor yang menyebabkan kereta api tidak bisa mengerem mendadak.
Dua di antara faktor itu adalah:
1. Panjang dan Berat Rangkaian Kereta Api
Hal yang menyebabkan kereta api tidak dapat berhenti mendadak adalah karena panjang dan bobot kereta api.
Makin panjang dan berat rangkaiannya, maka jarak yang dibutuhkan kereta api untuk dapat benar-benar berhenti akan semakin panjang.
Di Indonesia, rata-rata 1 rangkaian kereta penumpang terdiri dari 8-12 kereta (gerbong) dengan bobot mencapai 600 ton, belum termasuk penumpang dan barang bawaannya.
Dengan kondisi tersebut, maka akan dibutuhkan energi yang besar untuk membuat rangkaian kereta api berhenti.
Artikel Terkait
6 Hal yang Perlu Dipertimbangkan Ketika Hendak Membeli Mobil
Bentuk Peduli dengan Lingkungan Sekitar, ITDC Komitmen Terus Jalankan Program TJSL
Tayang 28 September 2023, Petualangan Sherina 2 Resmi Rilis Trailer