Ia juga membandingkan biaya operasional yang jauh lebih murah berkat program Electrifying Marine tersebut.
Baca Juga: Pakai Masker Saja Belum Cukup, Ini 5 Tips Jaga Kesehatan saat Kualitas Udara Buruk
"Kincir kami dalam satu hari biasanya dioperasikan 7-8 jam pada malam hari. Bila menggunakan BBM biayanya Rp 32 ribu. Sehingga dalam 1 bulan mencapai Rp 960 ribu. Tapi bila menggunakan listrik biayanya hanya Rp 13 ribu. Total dalam 1 bulan hanya Rp 390 ribu. Jadi penghematannya mencapai 40%," ujar Harsono.
Manfaat program Electrifying Marine juga dirasakan pelaku usaha dan masyarakat di Pelabuhan Tanjung Ru, Belitung.
Hadirnya Anjungan Listrik Mandiri (ALMA) di pelabuhan tersebut bisa dimanfaatkan oleh para nelayan untuk memenuhi kebutuhan listrik selama kapal bersandar, khususnya untuk kebutuhan cold storage yang semula berbasis bahan bakar minyak.
Keberadaan ALMA diperkirakan mampu memangkas biaya operasional nelayan hingga 60%.
“Biasanya kapal yang bersandar bisa menghabiskan biaya bahan bakar minyak sebesar Rp 600.000 selama 8 jam bersandar. Dengan menggunakan ALMA, cukup mengisi token listrik sebesar Rp 200.000, sudah bisa memenuhi seluruh kebutuhan listrik selama kapal bersandar," pungkasnya.***
Artikel Terkait
Terbaru, Lowongan Magang BUMN di PT PLN (Persero), Simak Persyaratannya
PLN Sukses Pasok Listrik Tanpa Kedip di Momen Pemecahan Guinness World Records Pergelaran Angklung di GBK
PLN Rampungkan Pembangunan GI dan SUTT 150 kV di Sulawesi Utara, TKDN Capai 80 Persen
Kapal MV Latifah Baruna, Armada Baru Milik PLN EPI untuk Perkuat Rantai Pasok Energi Primer
Jokowi Resmikan IMS Indonesia Arena, PLN Siap Pasok Listrik Tanpa Kedip Untuk Event Olahraga atau Konser Musik