Dampak finansial, sosial, dan ekonomi dari Holding Ultra Mikro kepada para nasabah juga cukup signifikan.
Baca Juga: Lebih dari Kelezatannya, Ini Rekomendasi Tempat Makan di Sentul Dengan Pemandangan yang Cantik
Sejak terbentuk pada 13 September 2021 hingga akhir Juni 2023, Holding Ultra Mikro oleh BRI sebagai induk bersama Pegadaian dan PNM telah berhasil mengintegrasikan lebih dari 36 juta nasabah pinjaman dan 162 juta nasabah simpanan mikro.
Akses pembiayaan atau pinjaman terhadap segmen ultra mikro tersebut akan terus ditingkatkan hingga 45 juta nasabah pada tahun 2024.
Guna meningkatkan inklusi keuangan dan memperluas akses terhadap penyediaan layanan finansial bagi nasabah ultra mikro, Holding Ultra Mikro terus memperluas kehadiran outlet Sentra Layanan Ultra Mikro (SenyuM) yang saat ini telah mencapai lebih dari 1.013 unit di seluruh Indonesia, sebagai essential hubs dalam penyediaan layanan BRI, Pegadaian, dan PNM dalam satu pintu.
Baca Juga: Tidak Main-main, Dua Program CSR Pertamina Hulu Mahakam Peroleh Penghargaan Internasional
Pembentukan Holding Ultra Mikro ini sendiri melayani usaha ultra mikro dan UMKM secara terstruktur dengan memperluas jangkauan, memperdalam layanan keuangan formal dan memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan.
Selain Holding Ultra Mikro, PT Bank Syariah Indonesia Tbk yang merupakan hasil merger dari anak usaha syariah BUMN Perbankan juga menjadi salah satu contoh inovasi yang mendukung sustainable financing.
BSI, yang merupakan bank syariah terbesar di Indonesia ini merupakan hasil merger antara PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri dan PT Bank BNI Syariah. Hal ini merupakan inovasi untuk mengembangkan industri halal dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat keuangan syariah dunia.
Baca Juga: Tekan Polusi Udara Jakarta, Kantor Pusat PLN Pakai Mist Generator Buatan BRIN
Merger tersebut juga dapat menjadi pendorong minat investasi masyarakat dalam memilih layanan perbankan yang berbasis syariah. Hingga Maret 2023, BSI memperoleh laba bersih sebesar Rp1,46 Triliun, yang mengalami kenaikan 47,65% dibanding tahun sebelumnya.
BSI terus berperan aktif dalam menyalurkan pembiayaan keuangan berkelanjutan sebesar Rp51,46 triliun hingga Maret 2023, atau 24,13% dari total pembiayaan BSI, serta secara konsisten mengimplementasikan green economy melalui berbagai program socioeconomic seperti penempatan.
Mesin Penukar Botol/Reverse Vending Machine di 33 titik lokasi di Jabodetabek & Bali serta 10 Desa BSI dengan penerima manfaat sebanyak 3.066 orang dengan total penyaluran sebesar Rp5,4 miliar.
Baca Juga: WIKA Kantongi Kontrak Baru Mencapai Rp15,41 Triliun
BSI menerapkan konsep sustainable financing berbasis syariah yang mengusung konsep keseimbangan finansial, sosial, dan spiritual. Dari sisi spiritual, BSI mendukung program manajemen dan inovasi masjid, program Da’i, penyaluran zakat dan sebagainya. Dengan naiknya kontribusi zakat, BSI sebagai bank syariah terbesar di Indonesia dapat semakin memberikan nilai lebih bagi masyarakat dan penerima zakat sesuai asnaf.
Artikel Terkait
Gandeng Kementerian BUMN, Bukit Asam (PTBA) Meriahkan 'BUMN Goes to Campus' di Polsri
Kementerian BUMN Resmi Angkat Rahmad Pribadi Jadi Direktur Utama PT Pupuk Indonesia
Arahan Langsung dari Kementerian BUMN, IFG Umumkan Perubahan di Jajaran Dewan Direksi Askrindo
Kementerian BUMN Meriahkan HUT Kemerdekaan RI dengan Menggelar Bazar UMKM di Sarinah
BPK Serahkan LHP Kementerian BUMN, Erick Thohir Pastikan BUMN Selalu Pertahankan Akuntabilitas