“Salah satu upaya Perusahaan meningkatkan efisiensi adalah melalui revitalisasi pabrik pupuk untuk menurunkan konsumsi bahan baku dan konsumsi energi dengan menggantikan pabrik yang sudah tua dengan pabrik baru yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Pusri IIIB dibangun dengan tujuan untuk menggantikan pabrik Pusri-III dan Pusri-IV yang sudah cukup tua usianya,” demikian ungkap Rahmad.
Baca Juga: Syarat dan Cara Ikut Undi-Undi Hepi Telkomsel Agar Bisa Menang Mitsubishi Xpander Cross
Pabrik Pusri IIIB nantinya akan mampu mengurangi emisi hingga 300 ribu ton CO2 per tahun.
Pabrik Pusri-IIIB memiliki kapasitas produksi amonia 445.500 ton per tahun dan pupuk urea 907.500 ton per tahun.
Dari sisi penggunaan energi, Pabrik Pusri-IIIB menggunakan teknologi low energy dengan rasio konsumsi energi untuk produksi urea sebesar 22 MMBTU/ton dan amonia 32,89 MMBTU/ton.
“Saat ini Pupuk Indonesia menempati peringkat 6 (enam) perusahaan pupuk di dunia. Dengan meningkatnya efisiensi, kami tentunya berharap bisa menghasilkan kinerja yang lebih baik lagi, termasuk bersaing di pasar regional dan internasional,” kata Rahmad.
Estimasi nilai investasi proyek Pusri-IIIB sendiri adalah sebesar Rp10,5 triliun (termasuk owner cost) dengan masa konstruksi sekitar 40 bulan. Proyek ini diharapkan sudah dapat beroperasi secara komersial pada tahun 2027.
Pendanaan proyek berasal dari kredit sindikasi investasi perbankan yang terdiri dari 8 perbankan nasional dengan Bank BNI sebagai agen fasilitas dan Bank Mandiri sebagai agen jaminan.
Baca Juga: Indonesian GP 2023: Kualitas Sirkuit Mandalika Tuai Pujian Pembalap dan FIM
Pada kesempatan yang sama, dilakukan juga penandatanganan EPC Proyek Pusri-IIIB yang dilakukan oleh Direktur Utama Pusri Palembang, Tri Wahyudi Saleh, Director of Wuhuan Indonesia Branch, Cheng Zhenghong, dan Direktur Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk, Entus Asnawi Mukhson.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Pusri Palembang, Tri Wahyudi Saleh menyatakan bahwa proyek revitalisasi pabrik Pusri-IIIB akan memiliki dampak positif pada perekonomian daerah dan nasional.
Pasalnya, proyek ini akan membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan daerah, serta membuka peluang ekonomi lainnya.
Terkait pembiayaan, Pusri Palembang menunjuk BNI & Bank Mandiri sebagai Joint Mandated Lead Arranger & Bookrunner (JMLAB) untuk selanjutnya bertindak sebagai koordinator dalam pembentukan fasilitas kredit sindikasi untuk pendanaan proyek Pusri-IIIB.
Kedua Bank tersebut bertanggung jawab untuk berkoordinasi dengan bank lain dan bertindak sebagai Mandated Lead Arranger (“MLA”) atau sebagai participant, memberikan data dan informasi yang terkait dengan rencana pembentukan kredit dan kondisi Pusri Palembang secara umum kepada bank lain.
Pusri Palembang juga mengusulkan kepada JMLAB untuk menunjuk BCA & BRI sebagai Joint Mandated Lead Arranger (JMLA) Pendanaan Sindikasi Proyek Pusri-IIIB.
Artikel Terkait
Pacu Pertumbuhan UMKM, Bank Mandiri Injak Gas Penyaluran KUR
Barang-barang Wajib yang Harus Dibawa Selama Liburan
Sukses Kurangi 565 Ribu Ton Emisi Karbon, Energi Bersih Pertamina Jangkau 63 Desa
Rekomendasi 5 Tempat Wisata di Sekitar Sirkuit Mandalika, Wajib Dikunjungi Usai Nonton Indonesian GP 2023
Indonesian GP 2023: Sesi Latihan Menunjukkan Potensi Pembalap Terbaik dan Siap Berlaga di Sirkuit Mandalika