“Dari tiga inisiatif tersebut, Pertamina, sampai tahun lalu, berhasil mengurangi 31% emisi dalam operasi internal kami,”imbuhnya.
Strategi kedua adalah meningkatkan pengembangan produk rendah karbon dengan memproduksi Biofuel. Mengapa biofuel? Karena Indonesia merupakan negara kedelapan terbesar yang memiliki hutan. Jadi, Indonesia memiliki kapasitas untuk memproduksi Biofuel.
“Sekarang, dengan B35, tahun lalu, kami berhasil mengurangi sekitar 32 juta ton CO2 per tahun. Dan kami akan menambahkan lebih banyak B35 sekarang dan tahun depan, B40. Bahkan dalam kebijakan energi nasional kita yang baru, targetnya sampai B60,”tambah Nicke.
Selain itu, Pertamina juga memiliki program Biogasoline dengan mencampurkan bioetanol dari tebu, jagung, dan juga singkong ke bensin. Pertamina akan mulai dengan E5% dan dalam Kebijakan Energi Nasional Indonesia, secara bertahap akan meningkat menjadi E40. Terkait dengan bahan bakar nabati ini, Pertamina baru saja meluncurkan bahan bakar jet berkelanjutan (Sustainable Efficient Fuel) yang dicampur dengan CPO.
“Jadi, program ini adalah opsi terbaik untuk Indonesia. Ada tiga manfaat utamanya, pertama, kami dapat mengurangi impor bahan bakar melalui biofuel. Kedua, kami dapat mengurangi emisi. Dan yang ketiga adalah menciptakan lapangan kerja di Hulu,” ungkapnya.
Selanjutnya, inisiatif ketiga adalah pengimbangan karbon. Walaupun masih ada bahan bakar fosil, masih ada pembangkit listrik tenaga batubara, tetapi Pertamina harus mengurangi emisi melalui Carbon Capture, Utilization, and Storage, serta solusi berbasis NBS (Natural Base Solution) dengan hutan yang dimiliki. Saat ini dengan kapasitas untuk menyerap emisi dari lingkungan global hingga 15%.
Dalam menjalankan berbagai inisiatif tersebut, lanjut Nicke, Pertamina menghadapi empat tantangan, yang pertama adalah kerangka regulasi untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan. Tantangan kedua terkait teknologi.
Indonesia memerlukan teknologi untuk semua sumber daya alam yang melimpah dan dapat diproduksi menjadi energi. Tantangan berikutnya adalah keuangan. Indonesia memerlukan pendanaan terutama untuk tahap awal pengembangan, penelitian, dan pengembangan. Yang terakhir adalah pembangunan kemampuan dan kapasitas.
“Ada empat tantangan dan kami percaya bahwa kami membutuhkan kolaborasi global tentang bagaimana kita dapat mengatasi tantangan ini terutama dukungan dari pemerintah,” tandas Nicke.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Jisman P. Hutajulu juga mengajak seluruh pemangku kepentingan turut andil mendorong transisi energi. Hal itu dilakukan dengan memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT).
Baca Juga: Petrokimia Gresik Borong Tiga Penghargaan di IQA 2023, Salah Satunya Platinum Award
“Pengembangan EBT dalam transisi energi ini adalah untuk jangka panjang,” kata Jisman di sela diskusi bertema “Increasing Ambitions in Renewable Energy Targets for NDC Acceleration”, Kamis (30/11).
Artikel Terkait
Gelaran Pertamina Eco RunFest 2023, Wujud Gerakan Peduli Bumi dan Kemanusiaan
Dibangun Sesuai Tema Event, Anjungan PHE di Ajang Pertamina Eco RunFest 2023 Dapat Pujian Direktur Utama Pertamina
Pertamina Group Raih Predikat Leadership AA di Ajang ESG Disclosure Transparency Awards
Program CSR Pertamina EP Bunyu Field Raih Dua Penghargaan di Ajang Benuanta Award 2023
Ciptakan Varian Produk Terbanyak, Mitra Binaan CSR Pertamina Hulu Kalimantan Timur Raih Penghargaan di Forum Kapnas III 2023