Menurutnya, SAF adalah suatu langkah esensial menuju dekarbonisasi industri penerbangan dan Airbus berkomitmen penuh untuk meningkatkan pengembangan dan pengadopsiannya.
“Indonesia menawarkan potensi yang signifikan dalam hal penyediaan sumber bahan baku SAF yang disetujui oleh CORSIA dan kami menyambut baik komitmen Indonesia dalam memprioritaskan pengembangan SAF," jelas Julie.
Indonesia diproyeksikan sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan tertinggi di dunia pada sektor industri penerbangan, dengan perkiraan pertumbuhan lalu lintas penumpang sekitar 7,4% per tahun. Angka ini lebih dari dua kali lipat dari rata-rata pertumbuhan global yakni sebesar 3,6%.
Selain itu, Indonesia juga menawarkan potensi terbesar sebagai sumber bahan baku untuk SAF, dengan potensi sumber yang menjanjikan seperti minyak goreng bekas, residu pertanian, dan sampah kota.
Baca Juga: Pertamina Geothermal Energy Dorong Kolaborasi di IIGCE 2024 untuk Capai NZE 2060
Sebagai faktor pendorong utama dalam upaya menuju dekarbonisasi industri penerbangan, SAF memungkinkan pengurangan emisi karbon hingga rata-rata 80% dibandingkan dengan bahan bakar fosil, mulai dari produksi hingga penggunaan akhir.***
Artikel Terkait
Kemenangan Beruntun, Subholding Upstream Pertamina Borong Penghargaan SKK Migas Award 2024
Pertamina Call Center 135 Raih Platinum dan Silver di TBCCI 2024: Pelanggan adalah Sahabat!
Inovatif dan Kreatif, Pertamina Patra Niaga Borong Marketeers Editor’s Choice Award 2024
Sampah Menjadi Berkah, Program TJSL Pertamina Mendapat Pujian Ibu Negara
Pertamina Eksplorasi Peluang Kerja Sama Hulu Migas di Amerika Latin dan Karibia
Antusiasme Membuncah, Pertamina Ajak Media Ikuti Anugerah Jurnalistik Pertamina 2024