"Kalau PLN tidak melakukan apa-apa, business as usual, output karbon kita akan mencapai 1,5 miliar metrik ton CO2e, sehingga PLN perlu mendorong pengembangan transmisi untuk mengoptimalkan sumber-sumber energi hijau," kata Didi.
Baca Juga: Sinergi Pertamina dan Bappenas Perkuat Transisi dan Ketahanan Energi Nasional
Didi menjelaskan bahwa banyak sumber daya energi bersih yang tersebar di Indonesia. Namun, karena lokasinya jauh dari pusat demand, pemanfaatannya masih belum maksimal.
"Oleh karena itu, dibutuhkan infrastruktur transmisi yang bisa mengevakuasi daya tersebut kepada pusat-pusat demand listrik," papar Didi.
Didi menjelaskan, peningkatan infrastruktur ketenagalistrikan nasional khususnya transmisi memerlukan dukungan pemerintah.
Baca Juga: Antares Eazy Hadirkan AI untuk Optimalkan Fungsi Analitik Video
Salah satu tantangan dalam mengembangkan infrastruktur ketenagalistrikan yaitu dari sisi keekonomian transmisi, di mana Return on Investment (ROI) pengembangan transmisi lebih rendah dibandingkan pembangkitan.
“Dalam proses transisi energi, diperlukan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Sehingga, kolaborasi dengan berbagai stakeholder lokal maupun internasional perlu dijalin. Karena ini adalah proyek besar, perlu kolaborasi dari kebijakan, teknologi, inovasi hingga investasi,” pungkas Didi.***
Artikel Terkait
Keberhasilan Transformasi PLN Menjadi Benchmark Perusahaan Internasional
Tampil Memukau, Konser Bruno Mars di JIS Didukung PLN dengan Suplai Listrik Terbaik
Contact Center PLN 123 Raih 43 Penghargaan Bergengsi dalam The Best Contact Center Indonesia 2024
PLN Gandeng Pupuk Indonesia dan ACWA Power untuk Produksi Hidrogen dan Amonia Hijau
Sampaikan Ambisinya Menuju Net Zero Emissions 2060, PLN Paparkan Sejumlah Upaya Strategis