Program CSR PHKT: Optimalkan Limbah Serbuk Kayu untuk Budidaya Jamur dan Kemandirian Pangan di Serambi Nusantara PPU

Photo Author
Novia, Kabar BUMN
- Selasa, 1 Oktober 2024 | 18:00 WIB
Program CSR PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) mendukung kemandirian pangan di Serambi Nusantara PPU. (DOK.PT Pertamina Hulu Indonesia)
Program CSR PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) mendukung kemandirian pangan di Serambi Nusantara PPU. (DOK.PT Pertamina Hulu Indonesia)

Kabar BUMN – PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) Regional Kalimantan Subholding Upstream Pertamina, berhasil mendirikan satu-satunya pusat pengembangan dan pembelajaran (learning center) jamur di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur.

Learning center ini adalah salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR), yang dikenal sebagai Program Semai Jamur dengan Cerdas dan Berwawasan Pangan, atau disingkat Semur Cendawan.

 

Melalui program ini, PHKT mengembangkan kapasitas kelompok tani dalam budidaya jamur yang sekaligus mendukung pelestarian lingkungan melalui pemanfaatan limbah serbuk kayu yang selama ini dibakar menghasilkan emisi karbon.

Baca Juga: Menyala! PHR Dapatkan 2.000 Barel Minyak Tambahan dari Lapangan Obor Blok Rokan

Tak hanya itu, program CSR unggulan PHKT Daerah Operasi Bagian Selatan (DOBS) ini turut berkontribusi mendorong kemandirian pangan di wilayah yang kini menjadi lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN) tersebut.

Program Semur Cendawan pernah meraih penghargaan Platinum (Elite) pada Nusantara CSR Awards 2024 pada kategori Mengakhiri Kelaparan melalui program CSR.

Pada tahun 2023 lalu, program ini pun mengantarkan PHKT-DOBS untuk meraih penghargaan Emas pada Anugerah Lingkungan PROPER dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Baca Juga: Konektivitas Sumatra Selatan Ditingkatkan, Hutama Karya Resmikan Penandatanganan PPJT Tol Palembang-Betung

Head of CRC Zona 10 Subholding Upstream Pertamina, Dharma Saputra, menjelaskan bahwa Program Semur Cendawan dirintis sejak awal 2022.

Ide awalnya bermula dari keinginan untuk menjawab tantangan bagaimana mengurangi limbah serbuk kayu.

“Sebelum dilakukan pendampingan dari PHKT, pertanian jamur tiram masih dalam skala kecil yang dikelola oleh satu kelompok saja. Kini dengan adanya pendampingan, kemitraan di masyarakat semakin berkembang dalam mendukung ketahanan pangan wilayah sekitar,” terangnya.

Baca Juga: ASDP Jadi Best Company in Human Capital 2024 di Ajang Indonesia Human Capital Award X 2024, Raih Gold Award!

Dharma menambahkan, pemanfaatan serbuk kayu turut mengurangi pembakaran total sekitar 240 ton per tahun limbah pabrik penggergajian (sawmill), penggunaan pupuk kimia 54 ton per tahun karena baglog jamur yang sudah tidak terpakai digunakan sebagai campuran pupuk organik bersama kotoran hewan, serta pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 40,77 ton CO2eq/tahun.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Novia

Tags

Artikel Terkait

Terkini