Solusi Hijau PHE WMO: Pertanian Holtikultura untuk Rehabilitasi Lahan Kritis di Bangkalan

Photo Author
Amalia R, Kabar BUMN
- Rabu, 16 Oktober 2024 | 13:30 WIB
Program eco-edufarming PHE WMO di Bangkalan sukses memulihkan lahan kritis pesisir dengan pertanian holtikultura berteknologi tepat guna. (Dok. Pertamina)
Program eco-edufarming PHE WMO di Bangkalan sukses memulihkan lahan kritis pesisir dengan pertanian holtikultura berteknologi tepat guna. (Dok. Pertamina)

Kabar BUMN - PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO), yang merupakan bagian dari Zona 11 Regional Indonesia Timur, Subholding Upstream Pertamina, telah meluncurkan inovasi sosial dalam bentuk program eco-edufarming.

Program ini merupakan upaya untuk memanfaatkan teknologi tepat guna dalam pertanian regeneratif yang bertujuan untuk merehabilitasi lahan kritis di Desa Bandangdaja, Bangkalan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Tanah di kawasan pesisir, termasuk Desa Bandangdaja, umumnya memiliki kandungan bahan organik yang rendah, sehingga sulit untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Baca Juga: Tinjau Progress LRT Jakarta Fase 1B, Pj Gubernur DKI Jakarta: Progress yang dicapai lebih cepat dari target awal

Masyarakat setempat pun cenderung merantau karena lahan kering di desa tersebut tidak termanfaatkan dengan baik, meskipun terdapat potensi air tanah yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian holtikultura.

“Program ini merupakan bagian dari rencana besar PHE WMO kepada masyarakat khususnya di wilayah pesisir utara Kabupaten Bangkalan yang kami sebut One Belt One Road (OBOR),” ujar Manager WMO Field, M Basuki Rakhmad.

Konsep OBOR yang diusung PHE WMO melibatkan program-program yang berbeda di setiap wilayah sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga: Dipercaya Kreditur, PT Perikanan Indonesia Komitmen Jalankan Proposal Perdamaian Pasca PKPU

Beberapa program besar yang sudah dilaksanakan antara lain Pelestarian Hutan Mangrove, Pemberdayaan Nelayan, Program Salt Centre Terintegrasi, serta program terbaru yakni Petani Holtikultura pada 2024.

Semua program ini dirancang untuk mendukung keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Program eco-edufarming di Desa Bandangdaja dimulai dari pendirian Himpunan Pemakai Air Minum (HIPPAM) “Sumber Barokah” yang bertujuan untuk mengatasi masalah air bersih yang dialami oleh masyarakat di tiga desa, termasuk Bandangdaja.

Baca Juga: Mitra BUMN Champion 2024, BNI dan Lima Mitranya Meraih Penghargaan dari Kementerian BUMN

Berkat bantuan pompa air dari PHE WMO, kini 400 kepala keluarga (KK) di daerah tersebut dapat menikmati akses air bersih tanpa harus menempuh jarak jauh.

Berdasarkan studi cadangan air yang dilakukan PHE WMO, air tanah di Desa Bandangdaja masih cukup melimpah, dengan surplus air mencapai 44 juta m3 per tahun.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Amalia R

Tags

Artikel Terkait

Terkini