Wakil Rektor UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menyambut baik kolaborasi ini dan menyatakan bahwa kerja sama antara perguruan tinggi dan industri menjadi kunci dalam menghasilkan inovasi teknologi yang memberikan manfaat langsung.
Ia menekankan bahwa teknologi DAS tidak hanya berguna untuk mitigasi bencana, tetapi juga mencerminkan upaya kolektif membangun sistem kebencanaan yang berbasis data dan inklusif, serta dapat diterapkan secara luas, terutama di daerah rawan bencana seperti kawasan pesisir.
Menurut Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., anggota tim peneliti UGM, teknologi DAS bekerja dengan cara memanfaatkan kabel optik sebagai sensor untuk mendeteksi gelombang seismik awal atau P-wave yang datang lebih dulu dibandingkan S-wave yang bersifat merusak.
“Dengan sistem ini, deteksi aktivitas gempa dapat dilakukan secara real-time dan terintegrasi dengan sistem geospasial, memberikan peringatan dini beberapa detik hingga menit sebelum guncangan utama terjadi, sehingga memungkinkan respons kebencanaan yang lebih cepat dan terkoordinasi,” jelasnya.
Baca Juga: 5 Rempah Paling Ampuh Melawan Bau Prengus Daging Kambing, Wajib Dicoba untuk Idul Adha Nanti
Hal ini memberikan waktu yang sangat berharga bagi warga di daerah pesisir untuk melakukan evakuasi dini.
Selain perannya dalam deteksi gempa, teknologi ini juga meningkatkan pengamanan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL).
DAS memungkinkan Telkom melakukan pengawasan terhadap kabel laut yang rentan terhadap gangguan, baik dari aktivitas geologi maupun kegiatan manusia seperti pelayaran dan penangkapan ikan.
Baca Juga: DAMRI Hadirkan Promo PAYDAY, Diskon Tiket 20% Khusus Pembelian di DAMRI Apps pada 25 Mei 2025
Gangguan kabel laut selama ini bisa terjadi hingga 15–17 kali per tahun dan berdampak besar terhadap layanan digital nasional.
Pemanfaatan kabel optik eksisting sebagai sensor akan meningkatkan efisiensi operasional dan melindungi aset vital jaringan bawah laut secara lebih optimal.
Saat ini, teknologi DAS akan diuji coba di jalur kabel laut antar pulau yang berada di kawasan aktif secara seismik, seperti pesisir barat dan selatan Indonesia.
Baca Juga: 6 Tanaman Pengusir Nyamuk yang Wajib Ditanam di Rumah, Bisa Jadi Insektisida Alami
Uji coba ini akan menjadi dasar integrasi dengan sistem peringatan dini nasional dan juga memperkuat kesiapan data untuk kebijakan publik dan riset.
Artikel Terkait
OCA Telkom Jadi Solusi Baru Pengelolaan Pajak Daerah yang Efisien dan Ramah Lingkungan
Tangani Sampah Kota dengan Teknologi, Telkom Tawarkan BigVision Berbasis AI
Telkom Tanam 5.000 Mangrove di Tarakan, Wujud Nyata Komitmen ESG Lewat Program GoZero% Goes to Borneo
BigVision dari Telkom: Inovasi AI untuk Efisiensi Operasional dan Digitalisasi Berkelanjutan
Telkom Dorong UMKM Kalimantan Utara Naik Kelas Lewat GoZero% Goes to Borneo