RUPTL PLN 2025–2034 Diperkirakan Buka 1,7 Juta Lapangan Kerja, Mayoritas Green Jobs dari Sektor Pembangkit Listrik

Photo Author
Dwi NM, Kabar BUMN
- Sabtu, 31 Mei 2025 | 19:00 WIB
Ilustrasi petugas PLN sedang melakukan koordinasi untuk menjaga keandalan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang di Jawa Barat. (Dok. PLN)
Ilustrasi petugas PLN sedang melakukan koordinasi untuk menjaga keandalan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang di Jawa Barat. (Dok. PLN)

Kabar BUMN – Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) untuk periode 2025–2034 tak hanya akan mempercepat pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT), tetapi juga menjadi pendorong utama terbukanya lapangan kerja dalam skala besar.

Pemerintah memperkirakan RUPTL ini akan menciptakan hingga 1,7 juta lapangan kerja di berbagai sektor, dengan sekitar 760 ribu di antaranya dikategorikan sebagai green jobs yang tersebar di berbagai pembangkit energi bersih.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa lapangan kerja tersebut terbagi atas dua sektor utama, yakni sektor pembangkitan sebanyak 836 ribu tenaga kerja, dan sektor transmisi, gardu induk, serta distribusi sebesar 881 ribu tenaga kerja.

Baca Juga: RUPTL PLN 2025-2034 Siap Buka Keran Investasi Swasta

"Penyerapan (tenaga kerja) RUPTL ini kurang lebih sekitar 1,7 juta. Supaya Indonesia terang. Nah ini, kita bikin terang-benderang ini.

"1,7 juta tenaga kerja yang mencakup kebutuhan industri, manufaktur, konstruksi, operasi dan pembinaan untuk pembangkit sebesar 836.696," jelas Bahlil dalam konferensi pers RUPTL PLN 2025–2034 di Jakarta, Senin (26/5).

Bahlil juga menegaskan bahwa dari total tenaga kerja di sektor pembangkit, lebih dari 91 persen merupakan green jobs karena berfokus pada energi terbarukan.

Baca Juga: PLN Tingkatkan Pengelolaan Risiko, ESG Risk Rating Berhasil Turun ke Level Medium

"Lebih dari pada 91% green jobs. Kira-kira ini supaya anak-anak muda kita bisa masuk," tegasnya.

Secara lebih rinci, potensi tenaga kerja dari sektor pembangkit EBT terdiri atas:

Baca Juga: PLN Siapkan Akses Listrik untuk 780 Ribu Rumah di Program Lisdes 2025–2029

  • Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS): 348.057 tenaga kerja
  • Pembangkit Listrik Tenaga Air/Minihidro (PLTA/M): 129.759 tenaga kerja
  • PLTA Pump Storage: 94.195 tenaga kerja
  • Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB): 58.938 tenaga kerja
  • Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP): 42.700 tenaga kerja
  • Sistem penyimpanan energi baterai: 68.193 tenaga kerja
  • Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm): 7.197 tenaga kerja
  • Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg): 1.481 tenaga kerja
  • Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa): 2.429 tenaga kerja
  • Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL): 341 tenaga kerja

Baca Juga: PLN Bekerja Sama dengan HDF Energy dan PT SMI, Tegaskan Komitmen Akselerasi Pemanfaatan Hidrogen

Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan bahwa RUPTL ini memiliki fungsi ganda: selain menjamin keandalan energi nasional dan mendukung target Net Zero Emissions, juga menjadi alat penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Selaras dengan visi Pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi bagi seluruh masyarakat, di dalam prosesnya akan terjadi penciptaan lapangan kerja, penurunan kemiskinan, penurunan kelaparan, membuka kawasan-kawasan industri dan ekonomi baru.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dwi NM

Tags

Artikel Terkait

Terkini