“Teknologi SAF ini sepenuhnya dikembangkan oleh insinyur dalam negeri, membuktikan kapasitas Indonesia sebagai regional champion energi hijau,” tegas Oki.
Baca Juga: Bukit di Bali yang Tak Kalah Indah dari Pantai dan Lokasi Tepat Memburu Matahari Pagi atau Sore
Di sektor bahan bakar diesel, Pertamina juga terus memimpin inovasi melalui penerapan B40, yakni program biodiesel dengan campuran 40% bahan nabati, yang saat ini merupakan tingkat tertinggi di dunia.
“Program Biodiesel B40 Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia, sehingga Indonesia dapat sepenuhnya mandiri dalam pemenuhan kebutuhan solar domestik,” tambah Oki.
Selain itu, Pertamina turut mengembangkan Renewable Diesel (RD), bahan bakar nabati hasil hidrogenasi minyak sawit.
Baca Juga: Lowongan Kerja untuk Lulusan SMA Sederajat Sedang Dibuka PT MUM, Cek Syarat dan Cara Daftarnya
Produk ini memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan biodiesel konvensional, seperti stabilitas oksidasi yang lebih baik, tidak mudah menyerap air, serta efisiensi pembakaran yang lebih optimal.
Dengan berbagai inovasi tersebut, Pertamina menegaskan posisinya sebagai motor penggerak transisi energi nasional, sekaligus membuktikan peran penting BUMN energi dalam menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.***
Artikel Terkait
Pertamina Maksimalkan Pasokan Energi untuk Sukseskan MotoGP Mandalika 2025
Pertamina NRE dan Singapore LNG Sepakat Kembangkan Bio-LNG Ramah Lingkungan
Eksistensi Global Subholding Upstream Pertamina Menguat di NAPEC 2025
Wujudkan Indonesia Mandiri Energi, Pertamina Tegaskan Komitmen Strategis
Produk UMKM Difabel Binaan Pertamina Tembus Pasar Global, Cassava Crackers “Yammy Babeh” Ekspor Perdana ke Brunei Senilai Rp288 Juta