Rudi menambahkan, pada tahun pertama sertifikasi, yakni tahun 2023–2024, sebanyak 48 Local Hero telah lulus.
Guna regenerasi dan menambah jumlah operator PLTS, tahun ini sebanyak 40 peserta baru kembali mengikuti sertifikasi.
Baca Juga: Kenapa Pendaki Pemula Wajib Latihan Fisik dan Mental Sebelum Naik Gunung
“Ke depan, kita akan terus melanjutkan program ini agar setiap desa dapat mengelola dan memelihara PLTS-nya secara swakelola, Kami tidak berhenti di penyediaan listrik saja.
"Energi yang dihasilkan dari PLTS ini dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, mulai dari pertanian, perikanan, hingga usaha kreatif desa. Jadi manfaatnya bukan hanya dari sisi energi, tetapi juga ekonomi,” ujar Rudi.
Salah satu peserta sertifikasi, Kukuh Diki Prasetya, penggerak program DEB di bidang kopi di Lampung, menceritakan bagaimana keberadaan PLTS mengubah cara masyarakat bekerja dan berproduksi.
Baca Juga: WSBP Suplai 336 Spun Pile untuk Pembangunan Gereja House of Adulam Jakarta
“Program Pertamina membantu mempercepat target kami — yang seharusnya butuh 10 tahun, kini bisa tercapai dalam 5 tahun. Dengan adanya energi surya, petani bisa menggunakan alat elektrik di kebun, sehingga pekerjaan lebih cepat dan efisien,” ujar Kukuh.
Kini, berkat dukungan program DEB, Kukuh telah melahirkan 18 kelompok baru petani kopi yang mengelola proses produksi dari hulu ke hilir, sekaligus menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di sekitar.
“Bagi saya, menjadi Local Hero adalah bentuk pencapaian sosial. Kita bukan hanya mencari keuntungan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Baca Juga: Tempat Makan Dekat Stasiun Solo Balapan, yang Tradisional Lebih Banyak Disuka
"Bersama Pertamina, kami membuktikan bahwa teknologi bisa diterapkan oleh masyarakat lapisan bawah,” tambahnya.
Kisah inspiratif juga datang dari Edison Fami, Local Hero dari Papua Community Mata Hati Malasigi binaan PEP Papua Field, yang berhasil menggerakkan masyarakat Desa Wisata Malasigi mengembangkan ekowisata berbasis hutan berkelanjutan dengan PLTS berkapasitas 8,72 kWp sebagai sumber energi utama.
“Lewat PLTS ini, kami di Malasigi tidak hanya mendapat penerangan dan aliran air, tapi juga harapan. Energi matahari membuat masyarakat bisa mengembangkan ekowisata dan produk UMKM tanpa merusak hutan yang menjadi sumber kehidupan kami," kata Edison Fami.
Artikel Terkait
Kolaborasi Pertamina–IHC Hadirkan Program CSR Berkelanjutan di Kabupaten Jember
Pertamina Perkuat Tata Kelola Bisnis dengan Penerapan Standardisasi Global
Pertamina Algeria EP Tegaskan Peran Strategis Indonesia di Forum Energi Afrika Utara 2025
Menyebarkan Semangat Inovasi Generasi Muda, Regional Indonesia Timur Pertamina Upstream Hadir di Bojonegoro
Pertamina Tegaskan Transparansi Informasi Publik untuk Lawan Disinformasi Digital