Produk ini menghasilkan emisi 32% lebih rendah dibanding arang konvensional (430 g CO₂/kg vs. 628,2 g CO₂/kg) dan memiliki durasi pembakaran dua kali lebih lama, sehingga lebih hemat dan efisien.
Baca Juga: Gratis dan Instagramable! Taman Menteng Bintaro Jadi Tempat Santai Favorit Warga
"Selain mendukung pencapaian SDGs poin 7 dan 13, Bionghum juga meningkatkan pendapatan petani sorghum melalui pengolahan limbah sorghum yang tidak bernilai guna menjadi produk baru yang lebih bernilai guna, menciptakan lapangan kerja, dan mengembangkan soft skill petani melalui pelatihan," jelas Karina yang merupakan mahasiswa Universitas Pertamina.
Selain Karina, ada Angelica Virginevra Malina More yang menginisiasi Hombiotank.
Inisiasi tersebut adalah teknologi inovatif yang mengubah limbah tinja manusia dan limbah organik menjadi biogas, yang kemudian digunakan untuk menghasilkan energi listrik.
Baca Juga: 4 Jalur Pendakian di Gunung Merbabu yang Banyak Dituju Pendaki, Termasuk yang Masih Pemula
"Teknologi ini tidak hanya mengatasi masalah limbah, tetapi juga menyediakan solusi energi terbarukan yang ramah lingkungan. Dilengkapi dengan sistem IoT dan aplikasi smartphone, Hombiotank memungkinkan pemantauan secara real-time.
"Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, Hombiotank memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi dalam menciptakan sistem energi yang lebih berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil," ungkap Angel.
Adapun dari kategori Energy Optimization, Khairunnisa Aulia Rahma membuat Drillytics yang merupakan platform analisis bahaya pengeboran berbasis AI yang dapat mendeteksi, menginterpretasi, dan melaporkan anomali bawah permukaan dari file Intermediate Geological Zone dan Intermediate Geological Profile berformat DWG secara langsung melalui Built-in DWG Compatibility.
Baca Juga: Pertamina Umumkan 29 Finalis Pertamuda Seed and Scale 2025 Siap Tampil di Demoday
"Solusi ini mendukung pengambilan keputusan strategis dengan analisis cepat, akurat, dan menyeluruh untuk meminimalkan risiko pengeboran, terutama pada area dengan potensi bahaya gas," ungkap Khairunnisa.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso menambahkan, Pertamuda Seed & Scale 2025 didukung oleh para ahli di bidangnya, termasuk juri dan calon investor dari swasta maupun perorangan. Sinergi lintas sektor ini menunjukkan adanya gerakan bersama untuk masa depan yang lebih inovatif, inklusif, dan berdaya saing global.
"Kami berharap, program unggulan Pertamina untuk membangun generasi muda ini dapat menjadi fondasi kuat bagi ekosistem kewirausahaan di Indonesia, mencetak para founder muda yang siap membawa perubahan positif bagi bangsa di masa depan," tambah Fadjar.
Baca Juga: Terang Baru di Sragen: Karmini Rasakan Kemerdekaan Energi Bersama PLN
Pertamuda Seed and Scale 2025 ini turut mendukung program Asta Cita Pemerintah, untuk meningkatkan kompetensi generasi muda menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, serta mendorong terwujudnya inovasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.***
Artikel Terkait
Melangkah Jadi Perwira, Inilah Cerita Menarik di Balik Rekrutmen Pertamina Group
Prestasi Beruntun, Subholding Upstream Pertamina Kembali Harumkan Nama Pertamina di Penghargaan Subroto 2025
Pertamina EP Limau Kembangkan Pengelolaan Limbah Batik Jadi Produk Ramah Lingkungan
Pertamina Umumkan 29 Finalis Pertamuda Seed and Scale 2025 Siap Tampil di Demoday
Pertamina Lubricants Ajak Pemenang Enduro Skill Contest 2025 Rasakan Pengalaman MotoGP Malaysia