Pertamina, ujarnya, terus mendorong dekarbonisasi terintegrasi dan bisnis rendah karbon di seluruh rantai nilai Pertamina yang sejalan dengan strategi pertumbuhan ganda.
Baca Juga: Pertamina EP Hadir di ADIPEC 2025, Dukung Kemitraan Baru Menuju Kemandirian Energi
“Upaya dekarbonisasi juga dihasilkan dari bisnis Pertamina NRE dengan pemanfaatan Pembangkit Listrik Hijau untuk operasional seperti Tenaga Surya, PLTP, PLTBg, PLTSa, hidro dan angin, serta pada saat bersamaan mendukung ekosistem EV, mengembangkan hidrogen dan amonia hijau,” jelas Agung.
Pada lini bisnis hulu, perseroan menjalankan efisiensi energi, serta pengurangan metana dan flare loss. Tidak ketinggalan, perseroan juga mendorong peningkatan portofolio hulu serta mengembangkan Carbon Capture Storage (CCS) / Carbon Capture Utilization & Storage (CCUS) dan penangkapan karbon berbasis alam.
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai subholding upstream Pertamina, terus memacu pengembangan 13 proyek CCS/CCUS (project pipeline 2025-2026), dengan potensi penyimpanan karbon mencapai 7,3 giga ton (GT).
Baca Juga: Peran Besar Pembiayaan KUR BRI Terhadap Keberlanjutan UMKM
Perseroan juga menargetkan pengembangan klaster bisnis CCS/CCUS dengan kapasitas hulu-hilir (end-to-end/E2E) sekitar 60 metrik ton per tahun (MTPA).
“CCUS/CCS Indonesia berpotensi menjadi pemimpin di Asia Tenggara dengan mengatasi emisi di “sektor-sektor yang sulit dikurangi”. Ini menjadi resep utama dekarbonisasi di sektor hulu migas bagi Pertamina sebagai perusahaan energi. Potensinya bisa berkontribusi mendukung target penurunan emisi 68% dari sektor energi pada 2030,” ujarnya.
Pada sektor bisnis pengolahan, Pertamina mendorong produksi biofuel (Hydrotreated Vegetable Oil, Pertamax Green dan Sustainable Aviation Fuel/SAF), bahan baku rendah karbon (UCO, CPO), dan Amonia Biru.
Baca Juga: Kisah UMKM Binaan Pertamina, Dari Lebah Tuntun 3 Buah Hati Berkuliah
Pada bisnis gas, perusahaan menjaga tata kelola biaya transmisi, kompresor elektrifikasi, dan menggunakan bahan bakar rendah karbon untuk armada, sekaligus menghasilkan Bio-LNG, hydrogen blending, natural gas, biomethane, hydrogen, dan transportasi amonia.
Pada sektor pemasaran dan niaga, dekarbonisasi dilakukan dengan distribusi bahan bakar rendah karbon seperti biodiesel, bioetanol, SAF, perluasan Green Energy Station, serta berpartisipasi pada pasar karbon.
“Sesuai dengan pesan COP30 yaitu “it's time to act”, Pertamina sudah melakukan aksi – dan di sini, kami menyampaikan hal-hal yang telah dilakukan dalam bidang dekarbonisasi dan energi terbarukan seperti SAF, juga perkembangan biodiesel dan perluasan bioethanol dengan belajar banyak dari kesuksesan Brasil,” ucapnya.
Baca Juga: 5 Tempat Wisata di Nusa Penida yang Tak Kalah Memukau dari Kelingking Beach
Agung menegaskan bahwa upaya-upaya yang dilakukan oleh Pertamina saat ini selaras dengan standar global, yakni membatasi kenaikan suhu rata-rata global hingga di bawah 2°C.
Artikel Terkait
Bright Gas Jadi Andalan UMKM di Festival Kopling 2025, Pertamina Dorong Daya Saing Pelaku Usaha
Pertamina Drilling Hadir di PLF 2025, Bawa IDTC sebagai Pusat Pelatihan Energi Terdepan
Hari Pahlawan, Dirut Pertamina Ajak Perwira Teladani Semangat Pahlawan: Layani Negeri dengan Hati
Kisah UMKM Binaan Pertamina, Dari Lebah Tuntun 3 Buah Hati Berkuliah
Pertamina EP Hadir di ADIPEC 2025, Dukung Kemitraan Baru Menuju Kemandirian Energi