Pengujian lapangan dilakukan melalui Proyek Surfactant Extended Stimulation (SES) di Lapangan Balam South, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Proyek ini berhasil diinjeksikan pada Juli 2025 dan menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan.
Baca Juga: Peluang Karier di BTN untuk Mahasiswa dan Fresh Graduate, Dibuka Posisi dengan Penempatan di Palu
Kontribusi Nasional
Lapangan Minas yang berada di Wilayah Kerja Rokan telah berproduksi sejak 1952 dan tergolong sebagai lapangan tua. Meski demikian, lapangan ini masih menyimpan potensi cadangan besar di bawah permukaan yang dapat dioptimalkan melalui penerapan teknologi CEOR.
Implementasi CEOR di Lapangan Minas menjadi bagian dari komitmen PHR dalam mendukung ketahanan energi nasional sesuai program Asta Cita Presiden RI, dengan estimasi tambahan perolehan minyak sebesar 12–16% dari Original Oil in Place (OOIP).
Baca Juga: PIEP Borong Penghargaan ISDA dan ICA 2025, Bukti Keberhasilan Program-program CSR Berkelanjutan
“Sukses CEOR di Lapangan Minas akan membuktikan bahwa teknologi mampu memperpanjang usia produksi lapangan tua sebagai kontribusi terhadap produksi migas nasional,” ujar Syaiful Ma’arif, Vice President Secondary & Enhanced Oil Recovery (VP S-EOR) PHR Regional 1.
Ia menambahkan bahwa penerapan teknologi ini dalam skala penuh memerlukan dukungan dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Sinergi antara Pemerintah Pusat dan Daerah, Pertamina, serta masyarakat menjadi faktor penting agar implementasi CEOR dapat berjalan optimal.
PHR dijadwalkan melakukan injeksi perdana ASP skala komersial pada 23 Desember 2025. Dampak peningkatan produksi diproyeksikan mulai terlihat pada pertengahan 2026, dengan target tambahan produksi mencapai 2.800 barel per hari pada puncaknya.
Baca Juga: 5 Kuliner Payakumbuh, Kota yang Dianggap Surganya Rendang Terlezat di Indonesia, Bahkan Dunia
Program Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) tidak hanya diposisikan sebagai inovasi teknologi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi nasional dalam menjaga ketahanan energi.
Optimalisasi cadangan minyak di lapangan tua diharapkan dapat mendukung pencapaian target produksi nasional sebesar 1 juta barel per hari pada 2030.
Selain itu, teknologi ini mengandung nilai keberlanjutan karena memaksimalkan potensi lapangan tua yang cadangannya telah terbukti, sekaligus memanfaatkan infrastruktur eksisting.
Baca Juga: Direktur Operasi Pertamina Drilling Tinjau Langsung Dapur Umum di Pidie Jaya, Aceh
Dengan demikian, pelaksanaan proyek dapat dilakukan secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Kinerja Moncer, PHR Zona 4 Sabet Penghargaan SKK Migas
Produksi PHR Zona 4 Melaju Kencang, Naik Sepuluh Kali Berkat Development Drilling
Aroma Wangi Kopi Fidia, Wujud Komitmen PHR Berdayakan Disabilitas yang Inklusif dan Berdaya
Pasar Murah PHR Hadirkan Senyum Warga Rokan Hilir dan Bengkalis
280 Anak Ikuti Khitanan Massal PHR Bersama Masjid Agung Ushuluddin, Tebar Kepedulian di Duri