“Penambahan produksi LPG dari Kilang Balikpapan diperkirakan mencapai 336 ribu ton per tahun, sehingga memperkuat pasokan LPG domestik dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap impor,” jelasnya.
Baca Juga: Januari 2026 Bisa Masuk Museum Nasional Indonesia Rp0, Ini Jadwal dan Ketentuannya
Selain mendorong diversifikasi produk, RFCC Complex juga memungkinkan pengolahan minyak residu yang sebelumnya sulit diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene.
Inovasi ini tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi kilang, tetapi juga memperluas kontribusi Kilang Balikpapan dalam rantai industri energi dan petrokimia nasional.
Dari sisi kinerja, tingkat kompleksitas Kilang Balikpapan mengalami peningkatan signifikan.
Baca Juga: Adrenalin Enam Jam Nonstop, Agya Endurance Race Digelar di Sirkuit Mandalika
Nelson Complexity Index (NCI) melonjak dari 3,7 menjadi 8,0, yang menunjukkan kemampuan kilang menghasilkan lebih banyak produk berkualitas tinggi seiring meningkatnya kompleksitas pengolahan.
Sementara itu, Yield Valuable Product (YVP) atau imbal hasil produk bernilai turut meningkat dari 75,3 persen menjadi 91,8 persen, atau naik sekitar 16 persen, menegaskan efisiensi serta daya saing Kilang Balikpapan yang semakin kuat.
“RFCC Complex menjadi simbol kesiapan Pertamina menyongsong era baru pengolahan kilang modern, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap swasembada energi nasional sebagaimana diamanatkan dalam Asta Cita Pemerintah,” tandas Baron.***
Artikel Terkait
Kilang Pertamina Internasional Lifting Perdana Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan dari Minyak Jelantah
Kinerja Positif Kilang Pertamina: Operasional Semester I 2025 Melebihi Target
Uji Mutu Eksternal, Kilang Pertamina Pastikan BBM Sesuai Standar
Sinergi untuk Pesisir Lestari, Kilang Pertamina Dumai Wujudkan Desa Mundam yang Tangguh Abrasi
Cegah Stunting dan Gizi Buruk Anak, Kilang Pertamina Dumai Kembangkan Urban Farming Bersama Kelompok Wanita Mundam Berseri