Awal Tahun 2026, PTPN IV Regional III Catatkan Kinerja Operasional yang Melampaui Target

Photo Author
Amalia R, Kabar BUMN
- Kamis, 12 Maret 2026 | 16:30 WIB
PTPN IV Regional III mengawali 2026 dengan kinerja positif, produksi TBS, CPO, dan kernel melampaui target RKAP serta efisiensi operasional tetap terjaga. (Dok. PTPN)
PTPN IV Regional III mengawali 2026 dengan kinerja positif, produksi TBS, CPO, dan kernel melampaui target RKAP serta efisiensi operasional tetap terjaga. (Dok. PTPN)

Baca Juga: Railink Gelar Aksi Sosial Ramadan, Salurkan Bantuan untuk Pesantren Tunarungu di Sleman

Dari total volume pengolahan tersebut, Regional III mampu menghasilkan sekitar 33,58 ribu ton crude palm oil (CPO). Jumlah ini setara dengan 117 persen dari target RKAP yang telah ditetapkan sebelumnya.

Selain produksi minyak sawit mentah, perusahaan juga menghasilkan sekitar 9,2 ribu ton inti sawit atau kernel. Realisasi ini bahkan mencapai sekitar 137 persen dari target RKAP.

Kinerja pabrik juga tetap menunjukkan efisiensi yang baik. Hal tersebut terlihat dari tingkat kehilangan minyak atau oil losses yang masih berada di bawah standar industri.

Baca Juga: Anti Mual di Jalan! Simak 7 Tips Mengatasi Mabuk Perjalanan Saat Mudik Naik Bus

Menurut Sori, berbagai capaian tersebut tidak terlepas dari upaya perusahaan dalam memperkuat disiplin operasional. Perusahaan juga terus menjalankan berbagai inisiatif peningkatan efisiensi baik di tingkat kebun maupun di fasilitas pengolahan.

“Selain menjaga produktivitas kebun, kami juga terus mendorong efisiensi proses pengolahan agar rendemen tetap optimal dan losses dapat ditekan. Ini menjadi fokus penting agar kinerja operasional tetap kompetitif,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Tim OSA Holding Perkebunan Nusantara III (Persero), Ahmad Haslan Saragih, memberikan apresiasi terhadap berbagai langkah yang dilakukan oleh Regional III dalam meningkatkan efisiensi operasional.

Baca Juga: Jelang Difungsionalkan, Hutama Karya dan Gubernur Sumsel Tinjau Kesiapan Tol Palembang–Betung

Ia juga mendorong agar perusahaan terus berupaya mengoptimalkan HPP atau harga pokok produksi.

HPP merupakan keseluruhan biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menghasilkan satuan produk, mulai dari biaya pemeliharaan kebun, kegiatan panen, hingga proses pengolahan di pabrik.

“Upayakan HPP bisa ditekan sehingga kinerja operasional bisa lebih optimal,” ujar Ahmad Haslan.

Baca Juga: Len Industri Pamerkan Teknologi “Otak” Kapal Perang, Siap Perkuat Pertahanan Indonesia

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Haslan juga menyoroti salah satu inisiatif operasional yang mulai diterapkan di Regional III, yakni sistem hatch and carry. Sistem ini dinilai sebagai langkah inovatif untuk meningkatkan efisiensi kerja di lapangan.

“Saya senang hatch and carry menjadi salah satu inisiatif di Regional III. Pelajari dampaknya dengan baik dan laporkan hasilnya,” tambahnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amalia R

Tags

Artikel Terkait

Terkini