Kabar BUMN – Sebagai dukungan untuk meningkatkan sektor pariwisata di Zona Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, PT Hutama Karya (Persero) telah merampungkan proyek Mandalika Urban and Tourism Infrastructure Project (MUTIP) paket 2 yang berlokasi di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Mengutip dari Kompas.com pada tanggal 9 Juli 2023 lalu, Menteri BUMN Erick Thohir menjelaskan bahwa pembangunan sirkuit Mandalika sudah selesai dilakukan, namun fasilitas sarana pendukung destinasi wisata KEK Mandalika ini terus dikembangkan.
“Kawasan ini kita kembangkan untuk sport tourism,” ujar Erick.
Baca Juga: KTT AIS Forum 2023 Sukses Digelar, The Nusa Dua Bersiap Sambut Perhelatan 61st AALCO
Sementara itu, Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Tjahjo Purnomo mengatakan bahwa proyek MUTIP paket 2 ini menjadi bagian dari penyelenggaraan MotoGP dimana Hutama Karya mengerjakan fasilitas penunjangnya.
Adapun fasilitas tersebut antara lain area parkir utara, podium, jalur area kru (paddock), pit pump, helipad, beautifikasi Bukit Jokowi, pagar batas sirkuit, gerbang sirkuit serta modifikasi pusat kendali balapan.
Selain itu juga membangun sejumlah infrastruktur utama lainnya seperti jalan, saluran utilitas serta penerangan yang berada di zona timur KEK Mandalika.
Baca Juga: Pertama di Riau, Klinik Utama PTPN V Raih Akreditasi Paripurna
“Saat ini proses pekerjaan fisik sudah selesai sesuai target, dan siap digunakan untuk gelaran MotoGP yang dilaksanakan pada tanggal 13-15 Oktober 2023,” ujar Tjahjo.
Lebih lanjut, Tjahjo menjelaskan bahwa kali ini Hutama Karya menerapkan beberapa teknologi dan inovasi berkelanjutan, seperti penggunaan CCTV panel surya untuk memonitor pekerjaan secara tepat waktu dan dapat diakses secara daring.
Selain itu, pengaplikasian CDE (Common Data Environment) pada tahap persetujuan, distribusi, dan monitoring dokumen agar menghemat penggunaan kertas maupun distribusi data secara digital.
Serta penerapan Civil 3D untuk menganalisa kesesuaian desain terhadap kondisi lapangan sehingga diperoleh informasi kebutuhan sumber daya maupun metode kerja yang efektif dan efisien.
“Selama pelaksanaan, tim di lapangan mengimplementasikan sistem kerja yang berorientasi pada ESHS (Environmental, Social, Health and Safety) secara baik sehingga tidak terjadi risiko kerja maupun konflik sosial serta senantiasa menjaga kebersihan lingkungan selama dan setelah proses konstruksi,” ujar Tjahjo.