Dari aspek tepat guna lahan, pada desain pembangunan jalan tol tepatnya STA 0+000 s.d STA16+159 juga dilakukan perubahan trase.
Perubahan ini dilakukan agar tidak banyak merelokasi permukiman warga serta area persawahan yang berfungsi sebagai lahan tanaman pangan berkelanjutan.
Lahan permukiman terdampak yang pada desain awal seluas 20,86 hektar berkurang menjadi 8,59 hektar serta lahan pertanian terdampak berkurang dari 40,79 hektar menjadi 0,74 hektar.
Pada tanggal 23-27 Oktober 2023 lalu, telah dilakukan penilaian kinerja konstruksi berkelanjutan dijalan tol Tol Binjai–Pangkalan Brandan, tepatnya pada seksi Binjai-Stabat.
Penilaian ini dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Direktorat Keberlanjutan Konstruksi.
Baca Juga: Bendungan Ameroro Impounding, Hutama Karya Rampungkan Proyek Lebih Awal
Sampai dengan saat ini, tersisa dua tahap terakhir dari rangkaian penilaian yaitu penyampaian kinerjapenilaian green construction kepada Menteri PUPR dan penetapan predikat konstruksi berkelanjutan.
“Kami berharap memperoleh hasil yang baik sehingga Proyek Tol Binjai–Pangkalan Brandan sukses menjadi pilot project dengan prinsip green construction dan kelak menjadi acuan penyeragaman prinsip green construction di proyek HKI lainnya,” ujar Direktur Utama HKI Aji Prasetyanti.
Hingga November 2023, progres pengerjaan Jalan Tol Binjai–Pangkalan Brandan (57 km) mencapai 89,54%.
Tahap I – Jalan Tol Binjai-Stabat (12 km) telah dioperasikan pada tahun 2022, Tahap II –Stabat-Kuala Bingai sepanjang (9 km) telah dioperasikan pada Oktober 2023 lalu.
Sementara, Tahap III - Kuala Bingai-Tanjung Pura (18 km) telah melalui uji laik fungsi (ULF) pada 5 Desember lalu dan ditargetkan untuk difungsionalkan pada libur Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2024.
Tahap IV –Tanjung Pura-Pangkalan Brandan sepanjang (18 km) kini masih dalam proses konstruksi.***