Frans mengatakan, pengimplementasian teknologi juga diterapkan dalam program Makmur yang merupakan program integrasi pertanian, kolaborasi antara BUMN sektor pangan, perbankan, dan asuransi.
“Dalam program Makmur kita terapkan precision agriculture. Di mana semua best practice yang ada di PTPN, ID FOOD, dan Pupuk Indonesia semua kami implementasikan di sini. Hasilnya dalam 4 tahun terakhir rata-rata tiap komoditas itu tumbuh di atas 40% dari protas dan berdampak terhadap kesejahteraan petani,” ujarnya.
Baca Juga: Capai Kinerja Positif Tahun 2023, KPI Optimis Tingkatkan Kinerja 2024
Lebih lanjut, Frans menuturkan, Perseroan akan terus mendorong penerapan teknologi teknologi industri gula secara bertahap dan berkelanjutan.
Ia mengajak seluruh pelaku industri pergulaan khususnya pelaku industri pendukung yang menyediakan teknologi digitalisasi dan mekanisasi, dapat menyiapkan skema kerja sama yang bisa membantu para pelaku industri gula melakukan investasi teknologi dengan lebih mudah dan lebih cepat.
“Kita akan terus dorong digitalisasi teknologi ID FOOD, mengingat saat ini gula masih menjadi kontributor terbesar dari revenue ID FOOD, kurang lebih sebesar 35% pemasukan dihasilkan dari industri gula yang dihasilkan dari 3 anak perusahaan, yaitu PT PG Rajawali I, PT PG Rajawali II, dan PT PG Candi Baru,” ungkapnya.
Baca Juga: Dorong UMKM Naik Kelas, Pertamina Hadirkan 29 UMKM Unggulan di Ajang Inacraft 2024
Adapun entitas bisnis ID FOOD mengelola 7 pabrik di Jawa Timur dan Jawa Barat. Mengelola sebanyak 55 ribu ha lahan baik HGU maupun kemitraan, serta berkontribusi sekitar 270 ribu ton gula setiap tahun.
“Artinya ID FOOD mengelola 10% dari keseluruhan lahan tebu nasional dan berkontribusi 13% dari sisi produksi,” terang Frans.***