rilis-bumn

Perkuat Digitalisasi Rantai Pasok, ID FOOD Jaga Ketahanan Pangan Asia Tenggara

Kamis, 23 Mei 2024 | 16:00 WIB
Melalui digitalisasi supply chain innovation, ID FOOD siap berperan aktif untuk menjaga ketahanan pangan regional Asia Tenggara (Dok. ID Food)

Platform ini menawarkan berbagai layanan dari mulai transaksi hingga pengantaran. Saat ini, jumlah mitra warung pangan tercatat lebih dari 10.000 UMKM tersebar di wilayah Indonesia.

Untuk menjaga integritas rantai pasok pertanian hulu-hilir, ID FOOD juga menjalankan program Makmur.

Program ini merupakan bentuk kolaborasi BUMN lintas sektor, di mana ID FOOD bertindak sebagai koordinatornya.

Program ini bertujuan untuk memberikan bantuan intensif kepada para petani, seperti pendampingan budidaya pertanian berkelanjutan, pemanfaatan teknologi pertanian, pendanaan, keamanan melalui asuransi, dan kepastian penyerapan serta kepastian pasar.

Baca Juga: WWF 2024: Pertamina Group Lakukan Aksi Nyata Dukung Keberlanjutan Air Bersih

“Program Makmur bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, dengan target partisipasi sebanyak bagi 2,5 juta petani dan 300.000 ha lahan garapan pertanian," tuturnya.

"Dari sisi produktivitas dan pendapatan, program Makmur diharapkan dapat meningkatkan produktivitas petani sekitar 10% dan pendapatan hingga 15%,” tambahnya.

Melalui digitalisasi supply chain innovation, ID FOOD siap berperan aktif untuk menjaga ketahanan pangan regional Asia Tenggara (Dok. ID Food)

Raras menambahkan, integrasi dan digitalisasi rantai pasok pangan yang dilakukan ID FOOD diharapkan dapat berkontribusi mengurangi beban logistik pendistribusian pangan.

Pasalnya, berdasarkan data Kementerian Keuangan tahun 2023, biaya logistik di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia, yakni sebesar 23,5% PDB, dibandingkan dengan biaya logistik di Singapura sebesar 8% dan di Filipina sebesar 18% (sesama negara kepulauan).

Baca Juga: Mandalika Child Learning Center: Harapan dan Pendidikan bagi Anak-Anak di Mandalika

Indonesia, dengan lebih dari 17.000 pulau, merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia.

“Ada tantangan logistik yang kompleks. Faktor penyebab tingginya biaya logistik di Indonesia diantaranya jarak dan geografi, keterbatasan infrastruktur, tingginya biaya transportasi, dan kurangnya konektivitas,” paparnya.

Menurutnya, penguatan digitalisasi dan pemanfaatan teknologi rantai pasok dingin menjadi langkah terbaik untuk efisiensi biaya logistik. Dengan turunnya biaya logistik maka harga pangan nasional akan lebih kompetitif.

Lebih lanjut Raras menjelaskan, selain digitalisasi dan pemanfaatan teknologi, penguatan rantai pasok pangan juga perlu didukung dengan pemenuhan regulasi seperti sertifikasi halal.

Halaman:

Tags

Terkini