Kabar BUMN - Dulu, suara ledakan petasan jumbo menjadi momok menakutkan bagi kawanan gajah sumatra yang sering merusak perkebunan warga di Desa Pinggir, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.
Namun, seiring berjalannya waktu, suara tersebut perlahan digantikan oleh suasana yang lebih tenang.
Suparto, seorang petani sekaligus Sekretaris Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya, telah menyaksikan perubahan signifikan dalam hubungan antara manusia dan gajah di kawasan ini.
Sebagai pemilik lahan dan perkebunan di area yang bersempadan dengan kantong gajah Balairaja, Suparto awalnya ikut-ikutan menggunakan petasan untuk mengusir kawanan gajah liar.
Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, ia pun mulai meragukan efektivitas cara yang justru menyakiti hewan mamalia yang terancam punah tersebut.
"Kami sadar bahwa gajah juga punya hak untuk hidup dan mencari makan. Dulu kami sering konflik dengan gajah, tapi sekarang kami bisa hidup berdampingan," ujar Suparto.
Baca Juga: Tersedia 35 Link Twibbon HUT ke-79 RI, Download dan Jadikan Bingkai Foto Profil Media Sosial Anda
Ia menceritakan, bahwa dulu, tahun 1995 hingga 2020, warga menggunakan cara kuno dan berbahaya tersebut untuk mengusir kawanan gajah liar.
Sebab, warga selalu merasa kesal lantaran hewan berbadan bongsor tersebut acapkali memakan tanaman sawit dan karet milik warga. “Warga yang kesal, selalu mengusirnya dengan petasan,” katanya.
Suparto dan para warga setempat kini telah berdamai.
Baca Juga: GerbangBiru Ciliwung, Program PGN Tingkatkan Kualitas Sungai Ciliwung dengan Menggandeng Masyarakat
Sejak mengenal Rimba Satwa Foundation (RSF) yang merupakan mitra program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Suparto pun akhirnya mendapatkan edukasi dan sosialisasi.
Kelompok masyarakat tersebut kini mendapatkan solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan gajah yang dulu mereka anggap hama, yakni dengan menjalankan program agroforestri.