Kini Mira sudah memiliki pabrik garmen sendiri, punya sejumlah toko batik yang berlokasi di Thamrin City, Aceh, hingga outlet di Malaysia. Jumlah pekerjanya pun terus bertambah hingga puluhan orang.
Baca Juga: Kemeriahan Kemerdekaan ke-79 RI di Pertamina Drilling, Semangat Tak Terhenti!
Modal ilmu dari Pertamina UMK Academy membuat Mira tak hanya mengandalkan Murni Asih. Ia membangun brand baru bernama Poenja Batik dan Mierto.
Tak hanya memproduksi baju batik, rumah produksi Mira juga membuat beragam kemeja pria, blazer, pakaian anak-anak, dan lain sebagainya.
Konsumen Mira pun berasal dari berbagai kota di Indonesia. Banyak yang tertarik setelah melihat Instagram yang dikelolanya.
Belakangan, konsumen dari negara lain pun ikut memesan produk Mira.
“Dari negara-negara Asia seperti Myanmar,” ujar Mira yang pernah menjadi pekerja lepas di toko batik di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tak hanya mengejar laba, Mira memulai bisnisnya sambil berupaya menaikkan popularitas batik Sragen.
Baca Juga: IFRA 2024: Pertamina Patra Niaga Kenalkan Pola Kemitraan Bisnis Non-BBM di SPBU
Ia merasa banyak orang belum mengenal motif batik Sragen yang cenderung abstrak dan kaya warna.
Fokus pertamanya adalah menjual batik produksi para pengrajin di berbagai desa.
Saat itu, Mira melihat banyak pengrajin batik merugi. Mereka kesulitan menjual produknya. Ditambah lagi, ada saja sales nakal yang gagal bayar.
Baca Juga: 79 Meter Bendera Merah Putih Dibentangkan saat Pertamina Patra Niaga Bersihkan Sungai Ciliwung
“Saat itu niat saya hanya ingin membantu para pengrajin batik supaya mereka bisa mendapatkan uang," ujarnya.