Melalui hasil pemetaan, PHE WMO menemukan potensi yang besar untuk pertanian di wilayah ini, sehingga mereka mulai menerapkan model pertanian regeneratif berbasis teknologi tepat guna untuk merehabilitasi lahan kritis.
Baca Juga: Melukat & Pratiti, Perjalanan Kesehatan Spiritual di The Meru Sanur
Proses pengelolaan dilakukan bersama Kelompok Tani Bumi Sentosa Sejahtera dengan memanfaatkan lahan percontohan seluas 1 hektar.
Sistem irigasi tetes dan penggunaan serabut kelapa sebagai media tanam turut diterapkan untuk menghemat air.
Dalam menjalankan program pertanian ini, PHE WMO juga mengajak masyarakat untuk beralih ke pertanian organik dengan memanfaatkan kotoran ternak untuk membuat kompos, pupuk organik cair (POC), dan mikroorganisme lokal (MOL).
Baca Juga: Promonya Masih Ada! DAMRI Gratiskan Transportasi ke Bandara Kertajati untuk Penerbangan ke Singapura
Dengan cara ini, potensi gagal panen dapat diminimalkan, dan keberlanjutan pertanian lebih terjamin.
Berbagai varietas tanaman mulai dari cabai, bunga kol, tomat, hingga melon kini dibudidayakan di lahan pertanian regeneratif ini.
Salah satu metode budidaya yang diterapkan adalah sistem Machida untuk tanaman melon, yang memungkinkan satu tanaman menghasilkan 15-20 buah.
Teknologi tambahan seperti rain harvesting dan soil nutrient sensor juga diterapkan untuk mendukung pertanian secara berkelanjutan.
Selain itu, teknologi pemanenan air hujan dan energi terbarukan juga diterapkan untuk mendukung operasional sistem irigasi, membuat program ini semakin ramah lingkungan.
Ketua Kelompok Tani Bumi Sentosa Sejahtera, Achmad Marnawi, mengungkapkan bahwa program ini telah memberikan manfaat besar bagi masyarakat sekitar.
"Kini berkat suksesnya program Eco Edufarming Bandangdaja membuat Desa Bandangdaja dan enam desa sekitar bisa mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan sehat dan organik, tentunya dengan harga yang bersaing," ujarnya.