Pelayaran perdana KMP Cucut di tengah krisis ini telah dimulai pada Senin (11/11), pukul 10.30 WITA dari Labuan Bajo, memastikan masyarakat yang membutuhkan akses transportasi tetap terlayani.
ASDP Indonesia Ferry juga menyadari bahwa penutupan bandara berdampak langsung pada kehidupan ekonomi masyarakat.
Banyak pelaku usaha, terutama di sektor pariwisata dan perdagangan, mengalami kerugian akibat terbatasnya akses transportasi.
Kehadiran KMP Cucut sebagai solusi transportasi sementara diharapkan bisa membantu menjaga pergerakan ekonomi di kawasan tersebut.
Baca Juga: PT Pindad Gelar Upacara Hari Pahlawan 2024: Direktur Utama Ajak Teladani Nilai Kepahlawanan
Jalur ini diharapkan dapat menghubungkan para wisatawan, pelaku bisnis, dan masyarakat lokal menuju tempat lain di NTT dengan lebih mudah.
Selain operasional kapal, ASDP juga menyalurkan bantuan kebutuhan pokok kepada warga terdampak melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Bantuan yang terdiri dari beras, mie instan, minyak goreng, air mineral, sarden, selimut, masker, perlengkapan bayi, dan perlengkapan mandi mencapai 1.311 unit barang, disalurkan untuk membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana.
"Melalui perwakilan ASDP di Kupang, kami telah menyalurkan bantuan ini sejak pekan lalu. Kami berharap bantuan ini bisa membantu masyarakat yang tengah menghadapi tantangan besar akibat erupsi gunung," tambah Shelvy.
Sebagai perusahaan penyedia layanan transportasi penyeberangan nasional, ASDP memiliki komitmen tinggi dalam memastikan konektivitas antar wilayah di Indonesia tetap terjaga, khususnya di saat-saat darurat seperti ini.
Langkah cepat yang diambil ASDP untuk menghadirkan KMP Cucut di lintasan Sape - Labuan Bajo mencerminkan kesiapan perusahaan dalam menghadapi situasi bencana dan memastikan kelancaran akses transportasi bagi masyarakat.
Dalam beberapa tahun terakhir, ASDP telah aktif berperan dalam berbagai kondisi darurat, termasuk membantu evakuasi di wilayah bencana.