rilis-bumn

Hutama Karya Selesaikan Menara Turyapada Tahap 1, Solusi Blank Spot di Bali Utara

Senin, 11 November 2024 | 18:00 WIB
Menara Turyapada, Buleleng, Bali. (DOK.Hutama Karya)

Kabar BUMN – Pembangunan Tahap 1 Menara Turyapada di Buleleng, Bali berhasil diselesaikan oleh PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) pada 8 Juli 2024 lalu.

Dengan nilai kontrak sebesar Rp 311,7 miliar, proyek inisiatif Pemerintah Provinsi Bali ini rampung digarap selama 720 hari kalender.

Pembangunan dilakukan melalui kerja sama operasi (KSO) antara Hutama Karya dan PT Yodya Karya (Persero) (KSO HK-YK), dengan porsi Hutama Karya sebesar 97,5%.

Baca Juga: Poin Gembira Festival 2024: Program Undian Telkomsel Poin dengan Hadiah Fantastis Termasuk 25 Yamaha NMAX!

“Semoga dalam waktu dekat masalah blank spot yang selama ini terjadi di Singaraja dapat teratasi dengan hadirnya Turyapada Tower."

"Dan nantinya juga menjangkau daerah-daerah lain yang belum terakses siaran di Bali,” ujar Pj. Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya saat berkunjung ke lokasi, mengukip dari Antaranews pada 13 Oktober 2024.

Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Adjib Al Hakim menegaskan bahwa kehadiran Menara Turyapada tidak hanya berfungsi sebagai pemancar sinyal telekomunikasi.

Baca Juga: Kuliner Khas Kepulauan Natuna, Maksimalkan Kekayaan Hasil Lautnya yang Melimpah

Ia menjelaskan bahwa menara ini juga dirancang dengan berbagai fasilitas publik seperti Wahana Skywalk, Planetarium, Restoran Putar 360°, dan jembatan kaca.

Terletak pada ketinggian total 1.521 meter di atas permukaan laut, menara ini memiliki tinggi bangunan 146 meter.

Dengan mengusung konsep “Loka Samasta Sakino Bhawana”, Menara Turyapada memadukan arsitektur tradisional Bali dengan elemen teknologi modern, sebagai simbol kesejahteraan dan kebahagiaan bagi masyarakat Bali.

Baca Juga: ASDP Siapkan KMP Cucut untuk Layani Warga Terdampak Erupsi Lewotobi di Rute Sape-Labuan Bajo

“Dalam pembangunannya, KSO HK-YK menggunakan teknologi BIM 5D yang tidak hanya mempermudah perencanaan dan deteksi benturan pada struktur dan arsitektur, tetapi juga memungkinkan pengelolaan aspek biaya dan waktu secara real-time,” imbuh Adjib.

Lebih lanjut Adjib menjelaskan, berbeda dengan BIM biasa yang berfokus pada visualisasi 3D, BIM 5D menambahkan dimensi waktu dan biaya ke dalam model.

Dengan begitu, lanjut dia, tim proyek dapat bekerja lebih efisien dan presisi, serta memastikan kualitas konstruksi tetap terjaga sepanjang proses pembangunan.

Baca Juga: Menikmati Panorama Yogyakarta dari Kawasan Hutan Pinusnya, Berikut Rekomendasi 5 Destinasi Wisata Terbaiknya

Halaman:

Tags

Terkini