rilis-bumn

Semen Gresik Sahabat Petani, Program SIG untuk Tingkatkan Kesejahteraan Petani di Rembang

Jumat, 15 November 2024 | 14:30 WIB
Program Semen Gresik Sahabat Petani yang diinisiasi anak usaha SIG, PT Semen Gresik, telah membantu ratisan petani di Rembang. (Dok. SIG)

Kabar BUMN – Anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), yakni PT Semen Gresik menginisiasi program Semen Gresik Sahabat Petani (SGSP).

Sejak dijalankan lada November 2021 silam, program ini telah memberikan dampak positif meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar Pabrik Rembang, Jawa Tengah.

Sebagai informasi, SGSP merupakan program CSR (Corporate Social Responsibility) sebagai wadah pemberdayaan masyarakat yang memberikan pendampingan kepada para petani pesanggem (penggarap lahan hutan).

Baca Juga: Trotoar di Kawasan Kuningan Ditata Jadi Lebih Aman, Inisiatif SIG dan Pemprov DKI Jakarta untuk Ruang Publik yang Infklusif

Total ada 361 petani pesanggem dari empat desa sekitar operasional Pabrik Rembang, meliputi Desa Tegaldowo, Desa Kajar, Desa Pasucen, dan Desa Timbrangan yang berpartisipasi dalam program ini.

Pendampingan yang diberikan meliputi edukasi tentang pertanian dan pengembangan usaha, bantuan bibit, hingga memfasilitasi para petani untuk menggelola lahan milik Perusahaan seluas 119,25 Ha.

Sukardi (40), salah satu petani pesanggem dari Desa Kajar yang berhasil bangkit dari himpitan ekonomi dan meraup pendapatan tambahan dari hasil bertani setelah bergabung dalam program SGSP.

Baca Juga: SIG Siap Dukung Pembangunan Infrastruktur dan Perumahan dengan Semen Hijau

Dia mengakui program SGSP sangat membantu peningkatan ekonomi petani lokal karena selama ini mereka menghadapi kendala keterbatasan lahan.

”Lahan saya sendiri itu luasnya tidak sampai 1 Ha.

"Mayoritas saya tanami jagung dan sisanya ditanami padi di bagian yang banyak airnya.

Baca Juga: SIG Borong 5 Penghargaan Prasetya Ahimsa dari Kementerian ESDM, Bukti Kesuksesan Kelola Keselamatan Pertambangan

"Dalam setahun saya bisa dua kali panen. Hasil panen padi untuk dikonsumsi sendiri karena jumlahnya juga tidak banyak.

"Nah yang jagung dijual untuk pakan ternak. Hasilnya belum mencukupi, makanya saya jadi supir untuk tambahan pemasukan,” kata Sukardi. 

Halaman:

Tags

Terkini