Selain komitmennya dalam mengaplikasikan green port, PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur juga telah berhasil meningkatkan produktivitas dan kinerjanya.
Pelabuhan Teluk Bayur saat ini merupakan salah satu Pelabuhan utama di Indonesia dalam penanganan komoditas curah cair, terutama minyak kelapa sawit (CPO).
Kapasitas penanganannya mencapai 3,2 juta ton per tahun, menjadikannya sebagai pelabuhan terbesar kedua setelah Dumai. Selain CPO, komoditas lain seperti cangkang dan bungkil juga diekspor ke Korea, Jepang, dan New Zealand melalui pelabuhan ini.
PTP Teluk Bayur berhasil menorehkan capaian penting dalam upaya meningkatkan efisiensi layanan pelabuhan.
Pelabuhan mengimplementasikan sistem operasi Pelabuhan nonpetikemas terintegrasi yang disebut PTOS-M (Pelindo Terminal Operating System Multipurpose)/PTOS-M yang memudahkan sistem monitoring kegiatan bongkar muat.
PTOS-M menjadi bagian dari proses transformasi dan standardisasi yang salah satu dampaknya adalah peningkatan kinerja produktivitas Ton/Ship/Day (T/S/D) dan penurunan port stay yang signifikan.
Sampai dengan Triwulan III Tahun 2024, PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur telah mencatat peningkatan kinerja produktivitas Ton/Ship/Day (T/S/D) seperti pada komoditas curah kering, yaitu dari 1.999 T/S/D menjadi 2.604 T/S/D atau peningkatan kecepatan layanan di pelabuhan 30%.
Selain itu, terjadi penurunan port stay atau waktu durasi sebuah kapal berada di pelabuhan.
Waktu tunggu kapal di pelabuhan ini berhasil diturunkan dari rata-rata 3 hari menjadi 2 hari, yang berarti peningkatan efisiensi biaya di Pelabuhan bagi pengguna jasa hingga 33%.
Penurunan waktu tunggu ini merupakan hasil dari penerapan sistem dan standardisasi baru yang mendukung kelancaran proses bongkar muat, sekaligus mengurangi hambatan operasional.
Baca Juga: PTP Nonpetikemas Perkuat Posisi dengan Sistem Digital PTOSM dan Standarisasi Layanan untuk Pelanggan
Dengan berkurangnya waktu tunggu, para pengguna jasa pelabuhan dapat menikmati manfaat efisiensi biaya operasional.