Kabar BUMN - Kupang menjadi kota pertama penyelenggaraan workshop bertajuk Update on Snakebite Management in Indonesia yang diselenggarakan Bio Farma bersama Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu, 9 April.
Bertempat di Hotel Aston Kupang, kegiatan ini menjadi langkah awal dari rangkaian workshop yang rencananya akan digelar di berbagai kota besar lainnya di Indonesia.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan medis di daerah-daerah endemis gigitan ular berbisa.
Baca Juga: 635,52 GWH Energi Bersih Sukses PLN NP Pasok untuk Memenuhi Kebutuhan Ramadan dan Idulfitri
Kepala Departemen Manajemen Produk Nasional Bio Farma, dr. Erwin Setiawan, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen mendukung penanganan kasus gigitan ular berbisa melalui penyediaan berbagai jenis serum anti bisa.
“Ketika kasus gigitan ular ditangani dengan cepat dan tepat, tentu akan bisa menurunkan angka kematian."
"Kami juga berharap menjadi solusi untuk tenaga kesehatan di NTT dalam menangani kasus gigitan ular,” ujar Erwin saat memberikan sambutan dalam acara tersebut.
Workshop ini menghadirkan Dr. dr. Trimaharani, M.Si, Sp.Em, satu-satunya ahli toksinologi ular di Indonesia sebagai narasumber utama.
Ia menyoroti pentingnya penanganan pertama terhadap korban gigitan ular berbisa.
“Penanganan pertama memegang peranan penting terhadap keselamatan pasien gigitan ular."
Baca Juga: Mungkin Lebih Lowong Setelah Libur Panjang, Ini Tempat Wisata di Puncak Bogor untuk Berakhir Pekan
"Di Nusa Tenggara Timur terdapat 3 jenis ular berbisa, yaitu ular hijau (Trimeresurus insularis), ular bandotan (Daboeia russellii siamenensis), dan ular laut Laticauda colubrina."
"Serum anti bisa ular yang perlu terdapat di NTT adalah Hemato Polyvalent Antivenom yang didistribusikan oleh Bio Farma.”