rilis-bumn

Peringati Hari Bumi, Pertamina EP Donggi Matindok Gandeng Masyarakat Adat Togong-Tanga Jaga Kelestarian Hutan di Banggai

Kamis, 24 April 2025 | 12:00 WIB
Pertamina EP Donggi Matindok peringai Hari Bumi dengan mengajak masyarakat adat Togong-Tanga menjaga kelestarian hutan di Banggai. (Dok. Pertamina EP)

Kabar BUMN – Pertamina EP Donggi Matindok Field (PEP DMF), bagian dari Zona 13 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina terus menggaungkan semangat menjaga bumi dan mewujudkan kelestarian lingkungan.

Semangat tersebut tercermin melalui kegiatan Fun Camping bersama masyarakat Desa Leme-Leme Darat, Kecamatan Buko, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah yang digelar pada Senin-Selasa (21–22/4/2025).

Kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh masyarakat lokal, tetapi juga melibatkan lembaga pemerintah, perwakilan desa dan kecamatan, institusi pendidikan, hingga media massa.

Baca Juga: Pertamina EP Sangasanga Field Raih Rekor Produksi Minyak Harian Tertinggi dalam 7 Tahun Terakhir, Capai 6.334 BOPD

Perayaan ini menjadi bentuk nyata komitmen kolaboratif untuk menjaga keberlanjutan lingkungan, terutama melalui pelibatan aktif masyarakat adat Togong-Tanga—suku asli kawasan Sea-Sea.

Sejak 2021, PEP Donggi Matindok telah menjalankan program pemberdayaan masyarakat adat melalui inovasi sosial yang menyasar penanggulangan deforestasi, penyebab utama degradasi lingkungan di wilayah tersebut.

Desa Leme-Leme Darat sendiri terletak sekitar 4 kilometer dari pusat desa, 120 kilometer dari ibukota Kabupaten Banggai Kepulauan, dan 674 kilometer dari pusat pemerintahan Provinsi Sulawesi Tengah.

Baca Juga: Pertamina EP Field Poleng Optimalkan Produksi Sumur Suci-A Melalui Aktivitas Slickline dan Well Test

Terletak di Pulau Peleng bagian barat, desa ini memiliki satu dusun yang berada di ketinggian 600 meter, yakni Dusun Kokolomboi.

Dengan total luas 600 hektar dan area permukiman 8,5 hektar, tantangan lingkungan di wilayah ini cukup kompleks.

Menurut data Pemerintah Desa, sekitar 15,05% penduduk masuk dalam kategori pra sejahtera dan menggantungkan hidup dari praktik pertanian berpindah, pembalakan liar, perambahan hutan, hingga perburuan satwa.

Baca Juga: Pertamina EP Serah Terima Pengelolaan Aset untuk Produksi Migas Lebih Optimal

Alih fungsi hutan untuk perkebunan, permukiman, serta pembangunan jalan juga turut mempercepat degradasi ekosistem.

Data dari Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan mencatat bahwa 144,86 hektar kawasan hutan berada dalam kondisi sangat kritis.

Halaman:

Tags

Terkini