Kabar BUMN - Hari itu, Irna Ginawati duduk di teras rumah sambil menatap putranya, Daffa, yang sedang bersiap mengikuti kelas tari.
Usia Daffa memang 22 tahun, tapi cara berpikirnya setara anak 9 tahun.
Ia adalah seorang anak berkebutuhan khusus. Meski begitu, semangatnya untuk belajar tak pernah surut.
Baca Juga: Candi Borobudur Dibersihkan Jelang Perayaan Waisak, Gunakan Teknologi Ramah Lingkungan dari Denmark
Bagi Irna, Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar peringatan.
Tanggal 2 Mei mengingatkannya pada perjuangan panjang sebagai ibu yang terus memperjuangkan hak pendidikan untuk putra istimewanya.
“Saya tahu Daffa berbeda sejak dini. Tapi kekhawatiran terbesar saya bukan hanya soal perbedaan, melainkan soal apakah dunia, khususnya pendidikan siap menerima dan memahami anak seperti Daffa," katanya.
Baca Juga: Hot Deal 5.5: Tiket MotoGP™ 2025 Turun Harga Spesial Sepanjang Mei, Bonusnya Bikin Happy!
Irna kerap menghadapi sistem pendidikan yang belum inklusif. Sekolah umum sering kali tak mampu menyesuaikan metode belajar untuk anak seperti Daffa.
Sementara itu, sekolah khusus membutuhkan biaya yang besar, belum lagi minimnya fasilitas dan penerimaan dari lingkungan sekitar.
Meski tak mudah, Irna tak menyerah. Setelah Daffa menyelesaikan sekolahnya, Ia mencari pendidikan non-formal untuk life skill putranya.
Daffa kini rutin mengikuti kegiatan seni, seperti kelas tari dan modelling.
Di sana, ia belajar mengekspresikan diri, bersosialisasi, dan yang terpenting adalah menumbuhkan kepercayaan diri.