Kabar BUMN - Dentuman kendang dan ketipung bersahutan, menyatu dalam irama yang mengiringi gerakan gemulai selendang.
Di atas panggung, sosok Aerli Rasinah menari dengan penuh penghayatan, mengenakan topeng dan sobra—mahkota khas penari topeng Indramayu—yang bergerak seirama dengan tubuhnya.
Tarian itu bukan sekadar pertunjukan, tetapi napas panjang dari sebuah tradisi turun-temurun.
Baca Juga: Regional Jawa Pertamina Catat Kinerja Positif 2024, Siap Akselerasi Swasembada Energi di 2025
Aerli bukan penari biasa. Ia adalah cucu dari maestro Tari Topeng Indramayu, almarhumah Mimi Rasinah.
Sebagai generasi kesebelas dalam garis keluarga penari topeng, Aerli membawa semangat dan dedikasi sang nenek ke dalam setiap gerakannya.
Mimi Rasinah, generasi kesembilan, memulai kariernya sejak kecil bersama orang tuanya yang berprofesi sebagai dalang ronggeng, hingga akhirnya dikenal luas sebagai ikon seni tari tradisional Indonesia, baik di dalam negeri maupun di mancanegara.
Baca Juga: Pertamina EP Regional Jawa Sabet Tiga Penghargaan di Global CSR & ESG Summit & Awards 2025
Kini, Aerli melanjutkan perjuangan sang nenek dengan sentuhan modern.
Ia menciptakan Tari Topeng Klana Lima Menit, versi pendek dari tari topeng tradisional agar lebih mudah diterima dan dipelajari oleh generasi muda.
Lewat Sanggar Tari Topeng Rasinah yang diasuhnya, sekitar 150 anak usia sekolah kini aktif dilatih untuk mencintai dan melestarikan seni leluhur ini.
Baca Juga: Regional Jawa Subholding Upstream Pertamina Berbagi Kebahagiaan di Bulan Ramadan
Perjalanan pelestarian budaya ini juga mendapat dukungan dari Pertamina Subholding Upstream Regional Jawa sejak 2015.