Kabar BUMN – Kekeringan mengancam pasokan pangan nasional.
Sepanjang musim kemarau 2023, BMKG mencatat sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal.
Dampaknya, sekitar 27 ribu hektar tanaman padi terdampak, dan lebih dari 2.200 hektar mengalami gagal panen.
"Subak di desa kami, terancam kekurangan air saat kemarau," ucap I Made Darayasa, petani di Desa Uma Palak Lestari di Munduk Uma Palak, Kelurahan Peguyangan, Denpasar Utara, Bali.
"Dampaknya produksi padi menurun, bahkan bisa gagal panen," lanjutnya.
Subak adalah sistem irigasi persawahan tradisional di Bali, yang dikelola oleh masyarakat lokal secara adat.
Baca Juga: Gasak Hadiah Undi-Undi Hepi Telkomsel! Ini Cara Tukar Poin di MyTelkomsel sebelum 15 Mei
Tak berpangku tangan, warga desa berikhtiar mencari jalan keluar.
"Kami menggandeng Aviation Fuel Terminal (AFT) Ngurah Rai Pertamina Patra Niaga, untuk mempelajari dan menerapkan teknologi mengatasi tantangan produksi tani.
"Melalui inovasi sistem pengairan Suplai Energi Manajemen Irigasi Uma Palak atau SIUMA dari tim Pertamina, kami berhasil memperbaiki irigasi di lahan padi," jelas I Made Darayasa.
Baca Juga: 5 Agenda Seru saat Waisak di Borobudur, Festival Lampion Jadi yang Paling Dinanti
SIUMA menggunakan sensor kelembaban tanah berbasis IoT yang terkoneksi langsung ke grup WhatsApp petani, sehingga memungkinkan pengambilan keputusan irigasi secara real time.
Ditambah bantuan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 21 kWp dan mikrohidro, pengoperasian sistem pengairan jadi hemat biaya.