InJourney juga terus menunjukkan komitmennya untuk menciptakan lingkungan pengelolaan yang inklusif, ramah bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas, lansia, Bhikku, dan umat Buddha yang memiliki keterbatasan mobilitas.
Baca Juga: Naik Kereta Gantung di TMII, Paket Hemat Rp85 Ribu untuk Dua Orang, Berlaku Weekdays Maupun Weekends
“Melalui pendekatan inklusif, kontemplatif, dan berbasis komunitas, kami ingin menjadikan Borobudur sebagai rumah spiritual global dan model pengembangan destinasi yang berkelanjutan di Indonesia."
"InJourney berharap kolaborasi semua pemangku kepentingan dapat terus ditingkatkan agar Borobudur tidak hanya menjadi ikon, akan tetapi juga simbol pencapaian spiritual dan harmoni bagi generasi kini dan mendatang,” tambah Maya.
Dalam mendukung visi ini, InJourney terus berkoordinasi secara intensif dengan berbagai pihak untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan tetap sesuai dengan prinsip pelestarian cagar budaya.
Baca Juga: Lowongan Magang di BUMN! Dicari Staf Yayasan untuk PT Pupuk Kujang
Upaya ini dilakukan untuk memastikan bahwa pengelolaan Candi Borobudur tetap menjunjung nilai spiritual dan budaya tanpa mengganggu nilai universal luar biasa (outstanding universal value) yang dimiliki Candi Borobudur sebagai mahakarya arsitektur dan seni Buddhis monumental. ***