Hasil sinergi kedua perusahaan ini mampu memberikan kinerja terobosan yang pertama di dunia, yakni mengolah gas hasil produksi yang dikumpulkan di Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP ABG) yang berkadar CO2 yang tinggi, yakni 65% mole, menjadi 8%, yang sesuai dengan spesifikasi gas siap jual.
Baca Juga: Pantai Soge, Tempat Wisata di Pacitan yang Punya Akses Mudah, Lokasinya di Pinggir Jalan Raya
Lapangan Akasia Bagus dioperasikan Pertamina EP dikembangkan berdasarkan Plan of Development (POD) yang disetujui pada 27 Desember 2017 dengan mekanisme dua tahap, Stage 1 dan Stage 2.
Hingga kini, Pertamina EP telah melakukan pengeboran 12 sumur pengembangan di klaster Akasia Bagus dan terdapat 26 sumur produksi aktif di Lapangan Akasia Bagus.
Untuk meningkatkan keandalan fasilitas dalam menampung hasil produksi migas, Pertamina EP tengah melakukan upaya peningkatan (upgrading) fasilitas Stasiun Pengumpul Akasia Bagus.
Baca Juga: Hutama Karya Wujudkan Pembangunan Berkelanjutan Lewat Program TJSL Padat Karya di Jabodetabek
Tepatnya, dari kapasitas awal 1.750 barel cair per hari (BLPD) dan 3 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD), menjadi 9.000 BLPD dan 22 MMSCFD.
Selain fokus pada peningkatan produksi, Pertamina EP juga berkomitmen dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Upaya ini termasuk penerapan teknologi ramah lingkungan dan penghijauan di area pesisir, dengan penanaman lebih dari 86 ribu mangrove.
Baca Juga: 10 KA Favorit Pilihan Masyarakat di Libur Panjang 28 Mei-1 Juni 2025
Proyek upgrading SP ABG ini mencerminkan langkah nyata Pertamina EP dalam mendukung ketahanan energi nasional melalui peningkatan produksi migas, penerapan teknologi inovatif, dan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan.***